Indahnya pernikahan UkhtiShalihah

Yang telah tergenapkan….

Alhamdulillah…

Entah, tak bisa kusebut kata lain selain kalimat-kalimat syukur atas pernikahan yang sudah melebihi bilangan 1 tahun ini. Memang, sebuah usia yang masih sangat muda mengingat perjalanan panjang yang insyaAllah masih menanti kami… tapi tentu saja, 1 tahun 5 bulan ini menjadi saat-saat indah dan berharga karena kini tak lagi kulewati seorang diri, karena telah ada sesosok lelaki shalih yang menemani…

Ba’da Isya tadi, seperti biasa, lelaki tampanku menelepon dari kota yang jauh di sana, berceloteh riang, berbagi cerita, dan seperti yang sudah-sudah ia selalu sabar mendengarkan apa-apa yang terucap dari bibirku, yang kadang susah untuk diam ini.

Dan baru saja, kubuka lagi foto-foto lama dari komputer tuaku yang kini sudah berpindah di laptop mungilku. MasyaAllah… entah bagaimana bisa, tanganku membuka sebuah file foto bernama “my lovely scout” dimana di dalamnya ada begitu banyak foto kegiatan pramuka yang dulu pernah kuikuti semasa SMA. Aku sudah cerita kan kalau dulu kami bertemu saat pramuka? ^^

Ya, dan tadi kulihat ulang foto-foto itu,entah sudah kesekian kalinya. Tapi aku sama sekali tak pernah bosan. Tadi, kulihat lagi foto PDT (Pengembaraan Desember Tradisional) tahun 2006.

Ahh,dan tahukah apa yang kutemukan?

Aku lihat di sana sesosok lelaki yang sudah sangat kukenal. Dengan jaket berwarna coklat muda, tapi kali ini tanpa jenggot tebal, di foto itu ia terlihat masih sangat muda, atau bahkan terkesan kekanakan. Bukan, bukan seperti anak kecil. Maksudku ia masih terlihat seperti bocah yang baru saja lulus SMA. Dan memang iya, karena ia baru saja lulus 2 tahun sebelumnya. Kalau dikira-kira mungkin baru di semester 4 kuliah.

Aku, hanya bisa tertegun melihat foto itu. Benar-benar tertegun dan heran bercampur jadi satu.

masyaAllah… dan tiba-tiba aku menyadari banyak hal. Betapa, kita memang tak pernah tahu tentang rahasia jodoh kita…

Aku baru tersadar, bahwa ternyata 5 tahun yang lalu kami pernah bertemu. Tepat di akhir tahun 2006 waktu itu. Dan anehnya, aku tak pernah merasakan apapun ketika bertemu dengannya. Biasa saja, sungguh. Bahkan terkesan mengabaikannya dan aku tak pernah ingin mengenalnya. Tapi kini, semua rasanya seperti mimpi. Karena bahkan mungkin aku adalah wanita yang saat ini paling dekat dan paling mengenalnya, setelah Bunda.

masyaAllah, lagi-lagi kita memang tak pernah tahu, siapakah yang telah tertakdir untuk kita hingga saat itu tiba..

sampai saat ini,aku masih saja tertegun heran mengingat bagaimana Allah mempertemukan kami. Hingga aku tersadar, bahwa Ia memang baru akan mempertemukan kita pada saat yang benar-benar tepat.

Kau tahu apa yang kurasa ketika bertemu dengannya di tahun 2007 itu? Ketika ia kuminta menjadi juri Lomba Galang waktu itu? Biasa saja, bahkan aku tak pernah menduga bahwa pertemuan itu akan berakhir di pelaminan 3 tahun setelahnya.

Dulu, di tahun 2008 ketika ia mengutarakan niatnya padaku, lalu aku menolaknya, tahu apa yang kupikirkan setelah itu?

Dulu kupikir suatu saat aku akan hadir di hari pernikahannya dengan akhwat yang aku tak tahu entah siapa. Terlebih ketika ia bercerita, bahwa ia telah menemukan akhwat lain yang sesuai dengan pilihan hatinya dan kriterianya.

MasyaAllah dan aku tak tahu bila itu terjadi, entah bagaimana dengan rupa hatiku ketika harus hadir di sana. Cemburu? Ahh, kurasa bukan. Kalau lah ia menikah dengan akhwat lain yang jauh lebih baik dariku, aku tak akan menempatkan rasa cemburu, karena rasa itu memang tak pantas untuk hadir di hatiku. Rasa itu lebih tepat bernama “kecewa”, kecewa pada diri sendiri mengapa aku menolak lelaki yang ternyata cukup shalih sepertinya. Dan kecewa itu mungkin akan berbuah ketakutan akan tiadanya ikhwan lain seshalih ia yang akan datang padaku. Semacam kesempatan kedua yang tak selalu menghampiri.

Ahh, tapi lagi-lagi, siapa yang tahu tentang rahasia jodoh kita kalau bukan Dia? Dia yang Maha Tahu, dan Maha Mengerti. Siapa yang paling pantas untuk kita, dan kapan kita pantas untuk bertemu dengannya. Jadi mengapa kita harus khawatir duhai saudaraku? Mengapa kita harus risau atas apa-apa yang bahkan kita tak punya pengetahuan atasnya? Mengapa kita tak siapkan bekal saja? Agar kepantasan itu bisa segera kita raih, hingga Allah tak akan menunda lagi perjumpaan kita dengan si shalih itu.

Menanti itu tak selalu perbuatan sia-sia kawan, karena di dalamnya ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan. Karena tanpa persiapan, akan ada banyak hal yang tak akan bisa lakukan tanpa bekal, ya kan?

Karena itulah, ikhtiarlah, mohonlah yang terbaik  hingga kebaikan-kebaikan pun datang menghampiri. Semoga, Allah mempertemukan segera 🙂

***^^***

17 bulan Sayang, hampir tiga musim berlalu. Tapi, rasanya masih seperti dahulu ketika kau pertama kali memanggilku “istriku” ^^

Desiran lembut itu masih sama, bahkan tiap hari mungkin akan selalu bertambah. Begitu juga denganmu bukan? 😀

Apakah kau dulu pernah mengira bahwa aku akan menjadi istrimu? Ahh,rasanya juga tidak, mungkin kau juga sepertiku yang tak pernah menyangka kalau kau lah lelaki yang Allah pilihkan untuk jadi suamiku ^^

Terimakasih atas hadiah dan kado indahmu selama ini. semoga Allah selalu merahmatimu, duhai suamiku lelaki tertampanku ^^

Ahad, 18 September 2011

Usai membaca “Sakinah bersamamu” karya Mba Asma Nadia. Sungguh, cinta itu akan selalu menjadi pelangi berapapun lamanya pernikahan ini ^^

Leave a Comment