Indahnya pernikahan UkhtiShalihah

Seorang suami & dapur kesayangan..

Wanita itu harus lihai mengurus urusan rumah, piawai memasak, mampu mengatur keuangan, paham psikologi anak dan sebagainya. Iyakah? Saya jadi terngat kalimat Bang Tere, bahwa sebenarnya bahwa semua kemampuan itu bukanlah hal pertama yang harus lebih dulu dikuasai seorang wanita sebelum berumahtangga, tapi justru yang pertama harus dimiliki seorang wanita adalah “kemauan dan kemampuan untuk belajar”. Belajar apa? Belajar apa saja, yang kelak akan mendukung peran kita sebagai istri, ibu, guru, chef, manajer dll di rumah kita 🙂

Tentu saja kemauan dan kemampuan belajar tersebut harus kita usahakan, sejak kita menyadari akan tanggungjawab berat yang akan kita emban. Dan lagi pernikahan sendiri adalah sebuah proses pembelajaran sepanjang hayat selama kita menjalaninya. Jadi bukankah itu artinya menikah itu harusnya membuat kita semakin bersemangat untuk terus meng-upgrade kualitas diri? 😀

Nah, tapi tapi, kalau ternyata engkau duhai suami, mendapatkan istri yang tak hanya shalihah dan baik akhlaknya, tapi ternyata juga pintar memasak, pandai mengatur rumah dan segala kelebihan lainnya, maka itu namanya anda tengah mendapat bonus dari Allaah, bonus yang harusnya membuat para suami lebih banyak bersyukur. Begitu pula dengan kita kan shalihat?

Dulu saya tak pernah meminta punya suami yang tahu urusan kerumahtangga-an, tapi saya dapat bonus dari Allaah, ketika ternyata beliau bisa membetulkan mesin cuci yang rusak, utak-atik motor yang ngadat, bongkar pasang kompor gas, dan hal lainnya. Jadi apa yang harus membuat saya tak bersyukur? 🙂

Ada cerita lain lagi dari teman-teman, ada yang suaminya justru jago banget masak dan sang istri-lah yang diajari masak oleh suaminya. Wow, bagi saya ini adalah bonus luar biasa dari Allaah buat beliau. hehehe. Kalau saya yang jadi beliau mungkin bakal mati kutu deh kalau tahu suami saya lebih jago masak :p

Berbeda dengan sahabat saya tersebut, suami saya bukan lelaki yang piawai memegang alat-alat dapur, paling pintar itu pegang pisau buat bantu potong-potong sayur, atau pegang ulekan bantu ngulek bumbu karena saya sudah mulai kesulitan mengulek bumbu sendiri. Tapi tentu saja saya juga sangat bersyukur, hikmahnya adalah saya bisa ngeksis dan menguasai dapur, hehehe, tinggal beliau saja yang jadi juru icip. Hikmah satu lagi, saya jadi lebih bersyukur ketika beliau dengan senang hati membantu saya di dapur, juga ketika beliau memasakkan sepiring mie goreng sederhana buat saya 🙂

Oiya satu nasehat untuk setiap suami:

Mulailah melatih lidah anda untuk menerima setiap rasa masakan, jadi anda bisa selalu tersenyum ketika mencicipi tiap hidangan yang tersaji dari tangan istri anda, lalu katakan padanya kalimat pujian lalu baru katakan apa yang dirasa sudah atau kurang pas dari masakan tersebut. Lalu, mulailah belajar untuk tidak pilah-pilah makanan, karena kemampuan “memakan segala” menurut saya merupakan kemampuan yang harus dimiliki tiap suami hingga akan membuat istri anda bisa lebih kreatif lagi memasak tanpa harus merasa terbatasi dengan hal seperti “suamiku ga doyan ini, ga suka itu, maunya ini, dll”.

Nah, mari dukung para istri belajar memupuk cinta dari dapur rumah kesayangan, moga makin penuh berkah 😀

Selalu ada hikmah dari setiap hal bukan?Yak, mari saling belajar, saling mengisi, saling menceriakan hari, semoga keberkahan selalu terlimpah bagi keluarga kita tercinta

Banjarmasin,

Ahad, 16 Juni 2013

Leave a Comment