Cerpen UkhtiShalihah

Seikat Janji…

“Aku lelah..” kata lelaki di depanku itu sembari tangannya sibuk mengaduk-aduk kopi yang masih mengepulkan uap. Hujan yang baru saja reda menyisakan udara dingin di luar sana, kurapatkan sweaterku sembari menatap kepulan uap dari gelas berisi coklat panas di hadapanku.

“Lalu, mengapa kau tak menghentikannya?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Sudah, tapi..” ia menatap lagi jendela yang sedikit mengembun di sebelahnya, seperti mencari sesosok asing di luar sana. “aku hanya takut menyakitinya, untuk kesekian kali, aku memang bersalah tapi aku sudah menyadari kekeliruanku” ia mendesah pelan, seperti ada sebuah beban berat di pikirannya.

“aku paham, pun aku pernah merasakan hal seperti itu, tapi mengapa tak dicoba? Akan lebih menyakitkan lagi bila kau terus begini, bukankah membuatnya terus berharap padamu juga hanya akan membuatnya lebih sakit? Ingat, terkadang seorang wanita itu lebih rapuh bukan karena ia harus melupakan orang yang disukainya tapi karena berharap pada sesuatu yang belum pasti

Ia diam, seperti tengah berpikir. Seorang gadis di sampingku menyenggol lenganku, lalu menyodorkan pergelangan tangan kanannya, kulirik sebuah jam kotak berwarna biru berada di sana, “sudah hampir jam lima” katanya pelan.

Aku mengangguk tanda mengerti, lalu beralih pada sosok di hadapanku, “jadi sebenarnya apa yang bisa kulakukan untuk kalian?”

Ia mendongakkan kepala dan membetulkan letak kaca mata minusnya. “umm, tolong jaga ia, katakan padanya bahwa aku tak pernah bisa menjanjikan apapun, aku memang mengaguminya sejak lama, tapi bukan seperti ini yang kuinginkan, aku tak mau mengikat hatinya, tolong katakan padanya, ia berhak memilih sendiri lelaki mana saja yang pantas untuk menjadi pendampingnya kelak” wajahnya tampak serius, menyiratkan sebuah kekhawatiran sekaligus ketulusan. “bisa kan?”

Walaupun sedikit bingung akhirnya aku menganggukkan kepala, “baiklah, akan kulakukan sebisaku

Jalanan sudah mulai sepi, tapi tidak dengan resto di kawasan Depok yang barusan kutinggalkan, justru tempat itu semakin ramai ketika menjelang malam, apalagi ini adalah hari sabtu, waktu yang katanya pas untuk jalan-jalan pasangan muda-mudi jaman sekarang, suatu hal yang tak kusukai sejak lama. Sore itu aku pulang dengan perasaan sedikit gelisah, antara senang dan khawatir.

“Qis, sebenarnya ada masalah apa antara temanmu itu dengan Farah?” sebuah suara membuyarkan lamunanku. Lisa masih memandangiku dengan wajah penasaran.

“umm, aku juga sedang bingung Lis, kupikir tak akan jadi serumit ini, sebenarnya bukan masalah yang begitu besar, ini hanya masalah hati, tapi kalau tak segera diselesaikan aku takut Farah jadi semakin tergantung pada Fikri”

Lisa mengeryitkan dahinya, “jadi adik sepupumu itu menyukai Fikri?”

Aku menganggukkan kepala, “iya Lis, baru beberapa waktu yang lalu, itu yang kudengar dari ceritanya pekan lalu, dan ia memang tampak berbeda beberapa hari ini, ia tampak lebih bersemangat dan ceria, aku jadi sedikit khawatir bagaimana harus menyampaikan hal ini padanya”

Jalanan berlapis aspal masih tampak basah, beberapa pedagang warung lesehan di pinggir jalan sudah mulai memasak, membuat aroma makanan terbang terbawa angin, membuat cuping hidungku sedikit mengembang.

“pelan-pelan aja Qis, ia memang masih muda, wajar kalau ia begitu antusias dengan perasaannya itu, apalagi selama ini aku tak pernah melihatnya pernah dekat dengan lelaki manapun”

“iya, aku mengerti, aku akan mencoba menyampaikan hal ini pelan-pelan” kataku sembari memandangi tanaman menjulur yang tumbuh melilit pagar di sepanjang jalan yang kami lewati.

***^^***

Siang di perpustakaan fakultas psikologi. Jam dinding menunjukkan pukul 13.00, waktunya perpustakaan buka kembali setelah tutup istirahat siang. Tampak di sebuah bangku panjang di sisi jendela, duduk seorang gadis berjilbab merah marun tengah memandangi rintik hujan yang baru saja turun, mengusir udara panas dan berganti dengan bau tanah yang menyegarkan. Ia beralih menatap buku yang ia pegang di atas meja. Lembar demi lembar sudah berganti, tapi ia tiba-tiba berhenti di salah satu halaman, tampak berpikir lama, beralih memandang ke arah jendela lalu kembali lagi memandangi bukunya.

Tampak bosan, ia segera beralih menuju rak-rak buku di sebelahnya lalu mengambil satu, dua, sampai lima buah buku dengan tebal yang berbeda. Baru berjalan beberapa langkah, kakinya tersandung dan membuat bukunya jatuh berserakan di lantai. Ia mengaduh lalu segera bangkit dan memunguti buku itu satu per satu.

“ini..” kata seseorang sambil menyerahkan dua buah buku kepada sang gadis.

Gadis itu mendongakkan kepalanya, tampak seorang lelaki asing di hadapannya, tak berapa lama ia sudah menerima buku dari uluran sang lelaki. “eh, terimakasih, maaf merepotkan

“tak apa, lain kali hati-hati, itu lantainya kan memang sedikit lebih tinggi” katanya sambil tersenyum lalu meninggalkan sang gadis yang masih bengong menatap punggung lelaki yang baru saja menolongnya itu.

***^^***

Farah, adik sepupuku yang baru kuliah semester dua di fakultas psikologi sepertiku dulu adalah gadis manja tapi sekaligus dewasa. Sejak ia sekolah di SMA, ia tinggal bersama keluargaku karena kedua orangtuanya tinggal jauh di Surabaya. Ia berjilbab sejak masuk SMA, dan aku sering mengajaknya ke berbagai kajian di sekitar kampus. Ia adalah gadis yang cepat belajar, dan setahuku ia memang tak pernah bermasalah dengan lelaki, walaupun sejak SMA banyak lelaki yang mendekatinya dengan alasan yang sangat sederhana, karena Farah cantik. Entah sudah berapa kali ia bercerita padaku tentang lelaki-lelaki yang iseng mendekatinya, ia memang adalah gadis yang tak mudah tertarik pada lelaki apalagi yang hanya mendekati Farah karena kecantikannya. Tapi di suatu sore beberapa hari yang lalu dengan tiba-tiba bercerita tentang suatu hal yang mengusik hatinya.

“Kak, aku.. tampaknya memang mengaguminya, tapi aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku harus gimana?” Farah tampak bingung, bibirnya mulai manyun, wajahnya yang bulat membuatnya terlihat lucu.

“siapa Farah? Apa kakak kenal?” aku masih sibuk membereskan buku-buku di rak kamar.

“umm,aku tak yakin kak Qisty kenal, tapi setauku ia adalah mahasiswa di fakultas Psikologi, aku tak tahu siapa namanya Kak, tapi ia tampak berbeda dari laki-laki yang kukenal sebelumnya”

“oh ya? apa yang membuatmu tertarik padanya? Setahu kakak, Farah kan bukan perempuan yang mudah tertarik pada lelaki” kataku sambil tersenyum menatap wajahnya yang berbalut jilbab ungu.

Ia memandangiku dengan wajah tampak berpikir, “apa…kak Qisty pernah menyukai seseorang?”

Pertanyaannya spontan membuatku berhenti menata buku, tiba-tiba aku terdiam sesaat lalu beralih menatap Farah yang malah tampak melamun memikirkan sesuatu, “umm, tentu saja pernah, memang ada apa Farah? Kenapa tiba-tiba balik tanya kakak, malah gantian nih mengintrogasi kakak?” kataku sedikit bercanda.

“hehe, pengen tanya aja kak, habis kak Qisty selalu kelihatan tenang, tak seperti Farah yang sekarang suka galau begini

Aku ikut tersenyum mendengar kalimat Farah yang tampak polos. Tentu saja Farah, aku pun pernah mengagumi seseorang tapi bukan suatu hal penting bagiku untuk menceritakan kegelisahan hatiku pada orang lain, apalagi padamu. Aku hanya ingin mengagumi dengan sederhana, sebatas kagum karena keshalihannnya, itu saja, dan selebihnya aku ingin menyerahkan semuanya pada Allah yang sudah pasti tau kepada siapa aku akan diikatkan pada lelaki terbaik menurutNya.

“kak.. kok malah melamun? Hayoo, inget siapa? Inget seseorang yang kakak suka ya?” Farah mulai menggodaku dengan matanya yang menyipit dan tersenyum jenaka.

“ehh,dasar anak kecil, mau tau aja urusan orang dewasa, sudah bukan jamannya lagi kakak galau gara-gara suka sama lelaki, usia kakak sudah genap seperempat abad Juni tahun ini, dan tentu saja ada banyak hal lebih penting yang harus segera kakak pikirkan” kataku berlagak serius dan tampak seperti sedang menguliahi Farah.

“iya iyaa, kak Qistyku yang cantik, yang udah sibuk kerja dan mau kuliah lagi, pasti sekarang juga sedang kepikiran nikah kan? Farah doakan deh, biar kakak bisa segera ketemu jodoh” ia mulai menggodaku lagi.

“hmm, iya deh, aamiin, udah ahh bahas jodoh-jodohnya, mending sekarang Farah belajar, udah mau UAS kan? Semester tiga besok akan tambah sibuk lho, jadi sekarang harus dipersiapkan dengan baik” kataku lagi-lagi sedikit serius. Farah akhirnya menganggukkan kepala, tentu saja masih dengan pura-pura patuh dan sesekali tersenyum nyengir lalu beranjak keluar kamarku.

baiklah kakak cantik, Qisty keluar dulu yaa, jangan ngalamun habis ini, jodoh pasti tak akan kemana kok, hehehe” ia kemudian berlari keluar sebelum aku sempat melemparnya dengan bantal berbentuk hati di tanganku.

***^^***

“kenapa tidak ini saja? Ini buku yang bagus, mudah dipahami dan bahasanya tak terlalu rumit” seorang lelaki tampak mengulurkan sebuah buku tebal dengan judul berbahasa inggris kepada gadis berjilbab oranye di hadapannya.

Sang gadis memandangi sampul buku itu lalu membuka-buka halamannya dan sesekali berhenti membaca sekilas, “iya, tampaknya memang ini yang saya cari, umm bolehkah saya pinjam Kak? Mungkin dua pekan lagi saya kembalikan?” wajahnya berbinar, sang gadis tampak bersemangat.

Lelaki berjenggot tipis itu mengangguk dan tersenyum ramah. Pertemuan kedua itu lalu berlanjut pada pertemuan-pertemuan lain di tempat yang sama, di lantai dua perpustakaan fakultas psikologi. Terkadang seperti sebuah kebetulan yang disengaja, gadis itu terlihat hampir tiap hari menyambangi perpustakaan tak seperti hari-hari sebelumnya. Dulu ia bukanlah mahasiswi yang betah berlama-lama duduk diam membaca di perpustakaan, tapi setelah mengenal lelaki itu semua jadi berubah. Ia jadi mahasiswa yang rajin datang ke perpustakaan, entah meminjam buku atau hanya sekedar mengerjakan tugas yang sebenarnya bisa ia kerjakan di rumah.

Pun dengan sang lelaki, walaupun lelaki itu memang sebelumnya sangat rajin keluar masuk perpustakaan untuk mengerjakan skripsinya, kini ia punya alasan lain untuk lebih rajin lagi ke sana. Walau terkadang ia hanya sekilas menatap dari balik pintu kaca, ketika melihat gadis itu tengah sibuk dengan tumpukan buku dan laptop di meja, maka lelaki itu tak akan mendekat, ia akan beranjak ke ruang internet di sebelah ruang baca yang hanya dipisahkan oleh sebuah dinding separuh kaca. Dari sanalah sang lelaki bisa memperhatikan gadis itu, diam-diam, seperti biasa.

***^^***

Pulang mengajar kurebahkan badanku di atas kursi busa di ruang keluarga. Ini adalah hari terakhir batas apply beasiswa program master, seperti yang kuinginkan sejak lama, di University of Melbourne. Kali ini aku berharap dengan melanjutkan kuliah di sana bisa membuatku setidaknya menjadi lebih baik lagi, dan tak memikirkan hal-hal yang seharusnya tak mengusik pikiranku pada saat seperti ini.

Ponsel di dalam tasku berbunyi nyaring, tanda ada sebuah pesan masuk.

~Assalamu’alaikum, maaf mengganggu Qis. Cuma ingin menanyakan permintaanku kemarin, apakah sudah ada hasilnya? Gimana keadaan Farah? Ia baik-baik saja kan?~

Aku tiba-tiba teringat pada pertemuan di sore hari dua pekan yang lalu, aku baru tersadar bahwa aku sama sekali belum menyampaikan hal itu pada Farah. Aku merasa sedikit bersalah setelah membaca sms Fikri. Sore ini juga aku berrencana akan menemui  Farah dan mengatakan semuanya. Tentu saja dengan perasaan sedikit gelisah dan aku sebenarnya bukan mengkhawatirkan bagaimana keadaan Farah, karena aku tahu bahwa ia bahkan memiliki hati yang lebih lapang. Aku saat ini justru lebih mengkhawatirkan hatiku sendiri, akan seperti apa rupanya nanti.

***^^***

Sudah berhari-hari berlalu sejak pertemuan ke sekian itu. Sang gadis masih setia menanti di sebuah bangku panjang di sisi jendela. Memandangi rerantingan yang menjulur seakan ingin menyentuh kaca . Siang itu langit tampak tak terlalu ramah, mendung menggelayut membuatnya tampak begitu suram. Mungkin begitu jualah yang tengah dirasakan sang gadis. Berhari-hari menanti tapi tak ada pesan maupun kabar tentang keadaan sang lelaki. Membuatnya khawatir dan sedih tapi juga sedikit marah, karena harus merasakan segala perasaan itu.

Ponsel yang tergeletak di meja berderit pelan, membuatnya tersadar dari lamunannya. Ada sebuah nama yang sangat familiar tertera di layarnya, membuat wajahnya yang berbalut jibab biru itu berbinar dan membentuk bulan sabit di bibirnya yang mungil.

“Assalamu’alaikum..” sapanya dengan nada ceria seperti biasanya, terdengar antusias malah. Tapi salamnya tak langsung mendapat jawaban dari seberang, setelah detik ke sekian akhirnya barulah ia mendengar suara seorang lelaki yang sangat familiar.

“Wa’alaikumussalam dek.. umm,apa kabar?” nada suaranya terdengar ramah tapi penuh kehati-hatian.

“Alhamdulillah sehat kak, Kakak kemana saja? Adek tunggu lho dua pekan ini, adek mau mengembalikan dua buku yang kemarin adek pinjam. Eh, kakak sehat kan? Kok tak ada kabar dari kemarin?” sang gadis bertanya panjang lebar dengan nada sedikit khawatir.

“Ohh, iya Kakak juga sehat. Maaf karena tak sempat memberi kabar, dua buah buku itu adek bawa saja dulu ya, karena mungkin kakak akan lama tak ke kampus lagi..”

“Ha? Maksudnya apa kak?” sang gadis tampak bingung.

“Dek, bisakah kakak minta tolong?” kali ini terselip nada sedih dari suara di seberang.

“Ya? apa yang bisa adek bantu kak?”

“Maafkan kakak, tapi bisakah adek melupakan pertemuan-pertemuan kita selama ini? kakak hanya tak ingin melukai hatimu dek..” kalimatnya menggantung membuat sang gadis semakin bingung.

Kali ini hujan sudah turun mengguyur, membuat dahan-dahan basah dan bergerak-gerak ditimpanya. Suara petir beberapa kali terdengar dari kejauhan.

“Sebenarnya ada apa Kak? Kakak kenapa? Apa salah adek selama ini?” suaranya tampak tercekat, seperti tengah menahan bulir air mata yang tiba-tiba memenuhi kelopak matanya.

to be continued..

***^^***

InsyaAllah sambungan cerpen ini akan ada di buku kumcer ukh sha selanjutnya 🙂

by : Hayu Iwandanu

 

Leave a Comment