Cerpen UkhtiShalihah

Rindu di hati Dinda…

Matahari bersinar cerah, sinarnya menelusup dari balik dahan dan dedaunan pohon akasia yang tumbuh subur di halaman. Sebuah gedung berlantai tiga tampak kokoh di balik pintu gerbang yang menjulang tinggi. Di sebuah kelas dengan tembok bercat warna-warni di dalamnya, ada seorang gadis duduk di pinggir jendela menatap burung yang bertengger di ranting pohon yang menjulur ke arahnya.

“ “Nah, anak-anak sampai bertemu lagi setelah liburan nanti ya, jangan lupa PR yang ibu berikan dikerjakan lalu dikumpulkan hari pertama masuk sekolah”” kata seorang perempuan paruh baya berkerudung hijau di depan kelas membelakangi sebuah white board besar.

“”Doni besok mau liburan kemana? Kalau aku besok sama Bunda diajak ke kebun binatang, Ayah dan kakak dan adikku juga ikut, jadi nanti pergi rame-rame”” kata seorang gadis berkerudung putih pada anak lelaki yang duduk di bangku depannya.

““Aku besok mau pergi ke Bandung ke rumah Kakek dan Nenek, di sana kebun teh kakek luaaas banget jadi besok bisa keliling kebun teh, kalau Dinda mau liburan kemana?”” Anak lelaki bernama Doni itu beralih memandang gadis yang duduk di pinggir jendela.

Gadis yang dipanggil Dinda itu menoleh, membuat rambutnya yang dikucir kuda bergerak. ““umm,belum tahu,Dinda pengen banget pergi ke pantai..tapiii..”” wajah gadis itu tampak muram.

““tapi apa Din?”” Doni dan Nabila menatapnya heran.

“”ndak apa-apa kok.. besok kalau udah masuk sekolah Doni sama Nabila cerita ya tentang liburan kalian”” katanya sambil berusaha tersenyum memperlihatkan lesung pipi di wajahnya.

Setelah berpamitan pada dua sahabatnya, akhirnya Dinda pulang. Gadis kecil berkucir kuda itu berjalan melewati halaman sekolah yang luas menuju pintu gerbang sekolahnya yang besar. Di depan gerbang sudah ada Pak Imran, supir keluarganya yang berdiri di samping sebuah Kijang Innova berwarna biru.

Dari kejauhan terlihat seorang anak lelaki dan perempuan memperhatikan Dinda dari  bawah pohon akasia. “”Dinda kasian ya Don, dia sering tampak muram, nggak seperti 2 tahun lalu ketika kita kelas 3″”

Doni menganggukkan kepala, “”lain kali kita ajak aja Dinda jalan-jalan biar Dinda nggak kesepian”” kata bocah lelaki itu pada gadis berkerudung putih itu.

***^^***

Jam besar di ruang keluarga sudah berdentang 7 kali, tapi sang pemilik rumah belum juga datang. Dinda duduk menggelesor di atas karpet tebal di depan TV layar datar berukuran besar yang menyajikan acara anak berbahasa inggris. Beberapa kali Dinda menguap, tapi ia tetap meneruskan aktivitasnya membolak-balik sebuah album foto di tangannya.

“”Mbak Dinda, makan dulu ya nanti keburu ngantuk lho, tadi siang bekalnya juga ndak habis kan? Nanti mbak Dinda sakit kalau ndak makan”” seorang wanita paruh baya mendekati Dinda sambil membawa segelas susu di atas nampan.

“”Dinda mau makan bareng Mama sama Papa mbok, Dinda tunggu Mama sama Papa pulang, mbok Surti pulang aja dulu, Dinda berani kok di rumah sendiri”” kata gadis itu masih memandangi foto-foto di tangannya.

Perempuan bernama Mbok Surti itu akhirnya menurut, ia segera pulang usai menyiapkan makan malam dan membersihkan dapur. Dari kejauhan ia memandangi Dinda yang masih duduk di depan TV. “”oalahh,kasian bocah itu tiap hari jarang ketemu sama Pak Hari dan Bu Maya, pasti bocah itu kangen”.” Mbok surti mengelus dada sambil menggeleng pelan, kalau saja ia tak harus menyiapkan makan malam untuk kedua orang anak dan suaminya, ia pasti akan menginap di rumah besar itu menemani Dinda.

***^^***

Jam besar berwarna coklat tua berdentang lagi 9 kali. Suara deru mobil memecah keheningan malam. Di dalam mobil tampak seorang lelaki dan perempuan. Mereka segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

“”Mama capek banget Pa, habis mandi langsung tidur ya”” kata perempuan cantik itu sambil menenteng sebuah tas laptop di tangan kanannya.

“”hffhh,jangan langsung tidur lah Ma, itu Dinda ditengok dulu siapa tahu masih belajar..Papa mau..”” belum selesai bicara, langkah lelaki dewasa itu terhenti di depan ruang keluarga. TV masih menyala, di depannya ada sesosok gadis tengah tertidur pulas sambil mendekap sebuah album foto.

“”kenapa Pa?”” perempuan di belakangnya ikut berhenti dan memandang ke arah ruang keluarga. “”masyaAllah.. Dinda”” ia bergegas menghampiri gadis kecil yang tengah tertidur di atas karpet itu.

Perempuan itu membelai lembut kepala Dinda, membuat gadis itu sedikit menggeliat. Sang lelaki segera mengambil sebuah album foto dari tangan Dinda. Ia amati foto di halaman yang sedang Dinda buka. Ada selembar foto yang terjatuh dari album. Lelaki itu segera mengambilnya dan membolak-balik foto itu. Di belakang foto tampak ada tulisan tangan Dinda.

“8 Juni 2009 – Hari ini Dinda jalan-jalan ke pantai sama Mama, Papa dan kak Amel, Dinda seneeeeng banget bisa jalan-jalan bareng, Dinda dan kak Amel main air sampai basah, tadi kak Amel mbeliin Dinda topi pantai warna biru, baguus banget.  Papa dan Mama udah janji kalau tahun depan mau jalan-jalan lagi-“

Lelaki itu menyerahkan foto itu pada istrinya. Mereka kemudian saling berpandangan, sang istri mengambil sebuah buku diary di samping Dinda. Ia heran karena selama ini tak tahu bahwa putri kecilnya kini punya kebiasaan baru, menulis di buku diary. Ia buka lembar demi lembar dan ia baca tiap kalimat yang Dinda tuliskan dalam buku berwarna biru muda itu. Di halaman pertama Dinda menulis “ “10 Desember 2009. Hari ini Dinda jalan-jalan sama Mama dan Kak Amel ke toko buku sama ke toko sepatu, seneng banget bisa memilihkan sepatu baru buat Papa, semoga Papa suka””

Di lembar berikutnya tertulis, ““20 Februari 2010. Kemarin sore Papa sama Mama berantem, Dinda sedih, Dinda ndak tau mau cerita sama siapa, Kak Amel juga ikut sedih, dari kemarin murung terus di kamar””

Sampai di sini perempuan itu berhenti sejenak, ia mengingat-ingat kembali kejadian tahun lalu. ““hfhh…Dinda ternyata tahu.. maafkan Mama ya Dinda”” hatinya mendadak begitu sedih, tapi tetap ia lanjutkan membaca bait-bait kalimat Dinda.

Di lembar berikutnya ada foto Dinda, Amel, dirinya dan sang suami, di bawah foto itu tertulis “”14 April 2010. Dinda kangen kak Amel, kangen Mama, juga kangen Papa, kapan ya bisa berkumpul bersama lagi?””

““28 Juni 2010. Kenapa kak Amel harus pergi? Kenapa kak Amel harus tinggal di pesantren? Kenapa ndak di rumah aja? Dinda kan jadi tambah kesepian. Papa sama Mama pulang sore terus, dan sekarang Dinda ndak punya teman. Kak Amel jahat, Mama jahat, Papa juga jahat. Dinda harus cerita sama siapa? Kenapa ndak ada yang mau perhatian sama Dinda?””

““8 Desember 2010. Hari ini terima rapot kenaikan kelas, nilai Dinda bagus, kata Papa kalau nilai Dinda bagus Papa akan membelikan Dinda hape baru dan jalan-jalan ke Sea world.. tapi Dinda ndak pengen semua itu, Dinda cuma pengen kak Amel pulang, Papa dan Mama di rumah, dan bisa kumpul bersama… Dinda kangen..””

Tak terasa ada air mata yang menyeruak dari kelopak mata perempuan itu. Kemudian ia terisak pelan bersandarkan bahu suaminya. Ia lanjutkan kembali membaca ke halaman paling terakhir, tertulis tanggal hari ini.

““11  Juli 2011. Mbok Surti udah pulang, Dinda sendirian lagi di rumah, Papa dan Mama belum pulang juga. Dinda laper dari tadi siang cuma makan sedikit, tapi Dinda pengen makan bareng Papa sama Mama, tadi Dinda udah buatkan telur dadar dibantu mbok Surti, semoga Papa sama Mama suka dan besok mau makan malam terus sama Dinda””

Perempuan itu semakin tergugu dalam tangisnya, mata sang suami terlihat berkaca-kaca. Mereka berdua memandang iba ke arah putri kecil mereka. Tiba-tiba ada rasa bersalah mengetuk-ngetuk hati mereka. Ternyata putrinya selama ini menyembunyikan sebuah kesedihan dari mereka. Mereka tak pernah tahu di balik senyum ceria dan celoteh riang putrinya ketika mereka temui usai pulang kerja, ternyata gadis kecil itu menyimpan kesedihan begitu dalam di hatinya.

““maafkan Mama sama Papa ya Nak…”” perempuan cantik itu bergumam pelan sambil membelai lembut kepala Dinda.

***^^***

Pagi yang cerah, Dinda sudah tampak rapi, kali ini ada yang berbeda dengan penampilan Dinda. Gadis itu mengenakan sebuah kerudung kecil berwarna merah muda, lengkap dengan rok dan kaos panjang. Ia mengambil tas yang sudah ia siapkan di atas kasur, ia cek ulang isinya, tampak tak ada yang tertinggal. Ia bergegas keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua dan turun ke dapur di lantai dasar.

“”Dinda, sarapan dulu sini Sayang..”” sapa perempuan cantik yang masih mengenakan celemek di badannya.

“”lho..Mama ngapain? Mama kok belum berangkat?”” Dinda heran melihat sang Mama masih di dapur, tak seperti biasanya ketika pagi hari Mamanya sudah berdandan rapi dan siap berangkat bekerja.

““iya, hari ini Mama pengen masak yang enak buat Dinda. Oiya, Dinda mau pergi kemana kok udah dandan cantik begitu? Bukannya ini sudah libur sekolah ya?””

““umm..Dinda mau ke rumah mbok Surti Ma, Dinda diajak mas Adit sama Rani ke sawah, Dinda mau diajari mancing di kali deket sawah, tapi Dinda juga belajar kok, ini bawa buku”” kata gadis kecil itu sembari mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya.

““ohh..ya sudah,tapi Dinda jangan pulang sore-sore ya””

“”memang kenapa? Mama sama Papa kan juga biasanya pulang malam, kalau Dinda pulang siang nanti di rumah ndak ada teman, jadi Dinda pulangnya sore aja ya Ma, di sana banyak temannya”” kata Dinda polos.

Papa Dinda yang baru saja datang dari kamar tertegun mendengar kalimat putri kecilnya itu, begitu juga dengan istrinya.”“ohh,ya sudah terserah Dinda nanti mau pulang kapan, nanti telpon Pak Imran aja ya biar dijemput”” kata lelaki itu sambil meletakkan tasnya di kursi.

Dinda mengangguk pelan. “”makasih ya Pa, Ma””

Usai sarapan Dinda langsung berangkat ke rumah mbok Surti diantar pak Imran, sedangkan Papa dan Mamanya berangkat bekerja seperti biasa. Tapi kali ini mereka berdua berangkat dengan berbagai perasaan berkecamuk di hati mereka, membuat mereka hanya saling diam selama perjalanan itu.

***^^***

Sungai jernih di dekat rumah Mbok Surti bergemericik melewati tumpukan batu, sesekali terdengar suara kumbang dari arah pepohonan besar dan rumpun bambu di belakang rumah. Suasana itu mengingatkan Dinda pada rumah Neneknya yang ia kunjungi 3 tahun yang lalu ketika Dinda duduk di kelas 2 SD.

““Rani suka mancing juga ya di sini sama Mas Adit?”” ia bertanya pada gadis berkerudung coklat yang sudah tampak lusuh di sampingnya.

““iya, kami biasa mancing di sini, malah tiap hari Ahad habis mengaji di surau kami memancing berdua, nanti ikannya dimasak buat makan siang””

““ohh..kalau ndak dapet ikan gimana?””

““ya ndak apa-apa, kan nanti ada sayur yang dimasak sama Ibu, dan bisa pake lauk tempe goreng”” kata gadis itu ceria, sambil melemparkan kail ke sungai.

““Raniii,ambil gelas ya, ini kelapa mudanya udah dapat”” terdengar teriakan seorang bocah lelaki dari kejauhan.

““iya mas,sebentar Rani ambilkan.. Dinda ini tolong pegangin dulu ya pancingnya, aku mau ambil gelas dulu di dalam””

Kikuk Dinda meraih pancing itu dan menggenggamnya erat, takut kalau-kalau nanti terjatuh ke sungai.

Tak berapa lama gadis bernama Rani itu kembali sambil membawa nampan lebar berisi gelas, sepiring tempe goreng dan buah-buahan. Mbok Surti membawa sebuah tikar lalu menggelarnya di bawah pohon Jambu yang tumbuh subur di samping rumah. ““Mbak Dinda duduk di sini aja, istirahat dulu mancingnya, kita makan gorengan sama minum kelapa muda dulu”” kata Mbok Surti. Dinda segera meletakkan pancing di pinggir sungai dan ikut duduk bersama keluarga mbok Surti.

Siang itu akhirnya Dinda makan bersama dengan keluarga pembantu rumahnya itu. Kali ini Dinda benar-benar merasa bahagia, ia merasa punya keluarga baru. Keluarga mbok Surti memang sederhana, suaminya adalah seorang pedagang buah di pasar. Kedua anak mbok Surti sangat ramah pada Dinda, Adit yang saat ini sudah SMP umurnya sebaya dengan Amel, kakak perempuan Dinda. Sedangkan Rani usianya sebaya dengan Dinda dan sama-sama duduk di kelas 5 SD. Hanya saja sekolah mereka berbeda. Kalau Dinda bersekolah di sebuah sekolah yang mahal dan bertaraf internasional, Rani hanya bersekolah di sekolah biasa yang letaknya ada di desa sebelah. Tapi kedua kakak beradik itu pintar, sering mendapatkan beasiswa dan menang berbagai perlombaan.

““Maaf ya Dinda, di sini seadanya.. makan pun ndak setiap hari pakai daging atau ayam, siang tadi malah cuma pakai ikan hasil mancing..”” kata Rani pelan, sambil memainkan ujung kerudungnya.

““ehh,ndak apa-apa kok Ran,malah Dinda suka di sini, tadi enak makan siangnya.Dinda seneng bisa makan bareng keluargamu. Soalnya di rumah jarang bisa makan bareng begini”” kata Dinda sambil tersenyum lalu menunduk memandangi sandalnya yang berada dibawah kursi bambu. ““Rani pasti seneng ya punya keluarga seperti ini””

““maksud Dinda? Memang Dinda ndak seneng tinggal di rumah Dinda? Di sini serba sederhana, ndak seperti di rumah Dinda yang serba mewah, di sini aku dan mas Adit harus belajar berhemat, kalau Dinda kan bisa beli apa aja, kalau kami mau beli sesuatu ya harus menabung dulu”” suara gadis itu terdengar murung. “”Tapi aku tetap bersyukur, sekarang jadi bisa belajar berhemat”” gadis itu kemudian tersenyum.

““hmm.. rumah mewah ndak selalu bisa membuat seneng Ran, Dinda cuma pengen punya keluarga seperti Rani yang sederhana tapi semuanya saling menyayangi dan perhatian. Dinda jadi kangen kak Amel. Udah dua bulan kak Amel ndak pulang..” “kata Dinda sambil memandangi halaman rumah Rani yang masih berpagar bambu yang tertata rapi.

““sabar ya Dinda… kalau Dinda mau, sering-sering aja main ke sini, nanti kuajak ikut mengaji di surau dan ke perpustakaan desa pinjam buku”” kata Rani bersemangat sambil menepuk bahu Dinda.

““baiklah.. makasih ya Ra”” Dinda tersenyum mengiyakan.

***^^***

Sore itu Dinda pulang dengan hati bahagia, walau tubuhnya lelah tapi ia senang bisa mendapatkan pengalaman berharga dari keluarga mbok Surti yang sederhana itu. Sesampainya di rumah ia ingin segera menceritakan pengalamannya pada Mama dan Papanya.

Di ruang keluarga TV tampak menyala, hati-hati Dinda melangkahkan kaki masuk ke ruangan.” “Kak Ameeell…”” Dinda hampir berteriak melihat ada seorang gadis duduk di atas karpet sambil memencet-mencet remote TV.

“”Dindaa,dari mana aja kamu? Kakak tungguin tahu sejak siang tadi”” kata gadis berambut panjang itu pura-pura manyun. Dinda tak menghiraukan wajah manyun kakaknya, ia segera menghambur memeluk kakak perempuan satu-satunya itu.

““ihh..Dinda ini,kayak lama ndak ketemu aja, baru dua bulan ini”” gadis bernama Amel itu tertawa melihat tingkah adiknya. Tapi Dinda tak ikut tertawa, ia justru menangis di pelukan kakaknya.

““Dinda kangen sama kak Amel..””

Amel menatap wajah adiknya heran. Ia merasakan ada yang  berbeda dengan adiknya saat ini. Tampak adiknya itu memang benar-benar sangat merindukannya. Tak berapa lama,dari pintu depan kedua orangtua gadis itu tampak masuk ke dalam rumah. Kali ini mereka pulang cepat tak seperti hari-hari biasanya yang sampai malam.

“”ehh,Kak Amel sama Dinda udah pulang rupanya..ini Mama bawakan donat kesukaan kalian”” kata seorang perempuan cantik sambil berjalan cepat ke arah mereka berdua.

Akhirnya mereka berkumpul di ruang keluarga sore itu. Dinda bercerita banyak tentang pengalamannya seharian di rumah Mbok Surti. Lalu Amel juga bercerita tentang ujian sekolah dan kegiatannya di pesantren. Suasana sore itu tampak berbeda dari sore-sore biasanya yang sepi. Ruang keluarga tampak ramai, Pak Imran mengintip dari pintu dapur. Ia kemudian tersenyum, ikut senang melihat keakraban keluarga majikannya sore itu. Sebuah pemandangan yang jarang ia saksikan selama 2 tahun bekerja di situ.

“”Dinda, kak Amel, Mama dan Papa ingin menyampaikan sesuatu pada kalian”” suara Papa berubah lebih serius. Amel dan Dinda memperhatikan Papa mereka baik-baik.

““Papa dan Mama minta maaf ya kalau selama ini kurang perhatian sama kak Amel dan Dinda, sebenarnya semua ini Papa dan Mama lakukan untuk kalian berdua, Papa ingin kalian bisa bersekolah di tempat yang bagus dan mendapatkan fasilitas yang baik juga, karena itulah Papa dan Mama sering lembur bekerja, tapi ternyata semua itu ndak membuat kalian cukup bahagia, Dinda sering kesepian ya di rumah?””

Dinda hanya mengangguk pelan. “”kalau kak Amel?”” Papa beralih menanyai gadis di sebelah Dinda.

“”Amel tahun lalu pengen tinggal di pesantren juga karena Amel merasa kesepian di rumah Pa..”” kata Amel sambil tertunduk.

““iya,maafkan Papa ya Nak,belum bisa membagi waktu dengan baik””

““umm,Mama juga mau bilang sesuatu, mulai hari ini.. Mama berhenti bekerja..””

Amel dan Dinda saling berpandangan tak mengerti.

““iya,Mama putuskan untuk berhenti bekerja di kantor, Mama akan meneruskan bisnis lama dulu, Mama ingin membuka toko kue sendiri, jadi Mama ndak akan terlalu sibuk di luar, jadi bisa lebih banyak waktu di rumah buat kak Amel sama Dinda””

“”beneran Ma?””  tanya Dinda masih tak percaya.

Mama Dinda mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak berapa lama Dinda dan Amel menghambur memeluknya. Perempuan cantik itu tiba-tiba merasa terharu, rasanya sudah lama sekali tak memeluk kedua putrinya itu. Ia tiba-tiba teringat peristiwa tahun lalu ketika ia memaksa ingin bekerja pada sang suami. Waktu itu kondisi usaha suaminya sedang kurang baik, dan terancam bangkrut, itulah mengapa waktu itu mereka sering bertengkar karena memikirkan berbagai kebutuhan yang harus bisa tercukupi. Akhirnya ia memaksa bekerja. Ia pikir, tak apa ia sibuk di kantor, karena apapun yang ia lakukan tak lain untuk kedua putrinya. Tapi ternyata ia salah, uang dan harta yang ia kumpulkan tak langsung membuat kedua putrinya bahagia, tapi malah sebaliknya.

“”makasih ya Ma..” “suara Dinda membuat perempuan itu tersadarn dari lamunannya.””Oiya, Mama ndak perlu khawatir masalah uang dan lain-lain, Dinda sama kak Amel bisa kok hidup sederhana, ya kan kak?”” ia menoleh pada kakaknya. Amel menangguk mantap. “ “Yang Dinda pengen, adalah Mama dan Papa punya waktu di rumah buat Dinda dan kak Amel.. ya?””

Sepasang lelaki dan perempuan itu mengangguk dan berjanji pada Dinda. Akhirnya sore itu ada tawa dan canda lagi rumah seperti 2 tahun lalu.

***^^***

Libur sekolah telah usai, saatnya Dinda masuk sekolah. Pagi itu anak-anak tampak ramai dan saling bertukar cerita usai liburan.

““jadi, Dinda kemana aja liburan kemarin?”” tanya Nabila antusias melihat wajah Dinda yang ceria dan bersemangat.

“”banyak.. kemarin Dinda berkunjung ke rumah  Nenek di Klaten, terus ke pantai, ke kebun coklat juga, pokoknya kemarin jalan-jalan ke banyak tempat deh”” kata Dinda sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

““ohh..baguslah.. Dinda seneng kan?”” Doni ikut nimbrung.

““iya dong.. Dinda seneeeng banget, akhirnya bisa jalan-jalan bareng lagi sekeluargabareng kak Amel,Papa dan Mama,dan sempat mengajak keluarga Mbok Surti juga lhoo…””

Nabila dan Doni saling berpandangan lalu ikut tersenyum, senang melihat sahabat mereka bahagia.

Hari itu kelas di mulai dengan perasaan senang di hati setiap anak. Senang karena liburan yang menyenangkan dan senang karena hari itu semester baru dimulai lagi. Di dahan pohon samping kelas Dinda, terlihat ada sebuah sarang dari tumpukan jerami dan daun kering. Dua ekor burung tampak berdiri berdekatan menjaga telur-telur yang tersimpan di dalam sarang. Sesekali burung itu berkicau, suaranya menambah ceria suasana pagi dikelas itu.

Selasa, 11 Oktober 2011

***^^***

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata, suami saya pernah bercerita, ada sebuah postingan di kaskus, waktu itu ada seseorang yang mengupload foto lembar jawab ujian seorang anak SD, waktu itu di soal ada sebuah gambar (saya lupa gambar apa) kalau ndak salah gambar seorang wanita menyuapi seorang anak kecil lalu ada pertanyaan di sampingnya. Pertanyaan soal itu adalah, gambar tersebut menunjukkan kasih sayang siapa?

Dari berderet pilihan, ternyata siswa itu menjawab “dari pembantu”, padahal di pilihan lainnya disebutkan Ayah, Ibu dan lainnya. saya benar-benar heran bercampur iba pada anak itu. Betapa ia tak bisa membedakan kasih sayang orangtua dengan pembantu, atau kah karena memang selama ini yang menyayanginya hanya pembantu di rumahnya?

ahh,semoga anak-anak kita nanti tak menjawab begitu juga ya ukhti, akhi..

Karena harta tak selalu bisa menyediakan kebahagiaan, dan mereka, anak-anak kita lebih membutuhkan kasih sayang kita sebagai orangtuanya…

Semoga kelak kita bisa menjadi orangtua yang adil ya ukhti, akhi.. tawazun dalam mencari nafkah untuk keluarga, tapi juga tak meninggalkan kewajiban kita untuk mendidik anak-anak kita,hingga mereka tumbuh dewasa dalam limpahan kasih sayang kita ^^

Leave a Comment