Cerpen UkhtiShalihah

Perempuan berwajah teduh…

Namanya Astri, perempuan paruh baya yang tinggal bersebelahan dengan rumahku. Aku biasa memanggil perempuan berwajah khas perempuan jawa itu dengan nama Mbak Astri. Ia memang bukan perempuan yang sempurna, secara fisik ia berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Kata ibu, dulu ketika kecil Mbak Astri pernah terkena penyakit polio sehingga kedua kakinya tak tumbuh seperti semestinya. Karena itulah sejak SD ia selalu menggunakan kursi roda ketika hendak pergi kemana-mana. Kalau ditanya bagaimana kepribadian perempuan itu, maka aku pasti akan langsung menjawab “sempurna”, setidaknya akhlak perempuan berwajah teduh itu jauh lebih sempurna dari keadaan fisiknya.

“”Mbak Ajeng,ini sarapannya sudah siap”” suara Mbok Yem dari dapur membuyarkan lamunanku.

“”Iya Mbok, sebentar. Ajeng masih siap-siap”” Aku segera beranjak dari balik jendela kamarku, sebelum pergi kulirik sekilas ke arah luar, Mbak Astri sudah berada di atas motor uniknya yang beroda tiga dan tampak sudah siap berangkat bekerja.

***^^***

““ Ajeeeng”” suara Nurul dari kejauhan membuatku berhenti mengetik, beralih dari memandangi layar laptop ke arah datangnya suara Nurul.

“”ada apa cantik? Kok keburu-buru?”” tanyaku heran melihat gadis berparas cantik itu ngos-ngosan.

““Jeng,tau ndak?  Mbak Rani pekan depan akan menikah lho”” katanya dengan nada riang sembari menyerahkan sebuah undangan berwarna ungu padaku.

““iyakah? Alhamdulillah..”” kubaca berderat-deret tulisan di dalam undangan itu dengan hati terharu. Tiba-tiba aku teringat dengan Mbak Astri yang sampai usianya yang sudah 28 tahun itu belum menikah.

““besok dateng ke akad nikahnya sekalian ya Jeng”” Nurul tampak antusias, dan aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

***^^***

Sore yang cerah, anak-anak sudah mulai berpamitan pulang, hanya tinggal aku dan Mbak Astri yang masih membereskan buku dan meja di ruang berukuran 4×5 m ini. Di tempat inilah Mbak Astri mendirikan rumah baca sekaligus rumah belajar bagi anak-anak yang kurang beruntung, seperti anak-anak jalanan yang tak bersekolah, anak para pemulung, atau anak sekolah yang masih ingin belajar. Beginilah keseharian mbak Astri, ia mengajar di SD ketika pagi hari dan mengajar di rumah baca ketika sore hari. Tak hanya pelajaran sekolah tapi di rumah baca ini mbak Astri juga mengajar anak-anak mengaji.

Kutatap wajah perempuan di hadapanku itu, rasanya tak pernah berubah dari dulu, wajahnya selalu mengukirkan sebuah senyum bahkan di saat ia tertimpa musibah sekalipun. Pernah suatu ketika ada anak yang datang ke rumah baca membawa temannya, dan teman anak itu memanggil Mbak Astri dengan sebutan orang pincang, tapi aku tak pernah menemukan wajah sedih atau marah yang ia tampakkan, justru sebaliknya ia tersenyum dan menanggapi kalimat itu dengan candanya yang khas. “tak perlu sepasang kaki yang sempurna kok dek untuk masuk Surga, yang kita perlukan adalah iman yang sempurna, ya tho?” kata Mbak Astri selalu begitu. Entah sudah berapa kali ejekan mampir ke telinganya. Tapi semua itu tak pernah membuatnya berkeluh kesah apalagi tidak terima akan takdirnya. Itulah mengapa aku benar-benar sangat menghormati dan sangat sayang pada perempuan yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri itu.

“”Mbak,tau ndak kemarin Ajeng habis datang ke walimahan kakak angkatan yang baru saja lulus. terus Ajeng jadi kepikiran pengen menikah juga”” kataku sambil menata buku-buku di lemari.

“”ehh,iyakah? Bagus itu Jeng,malah jadi motivasi kan? Jadi mau kapan nih mbak dikasih undangan?”” Kata mbak Astri sambil tertawa kecil menggodaku.

““yee,Mbak Astri seenaknya sendiri, calon aja belum ada mbak, lagipula Ajeng masih harus menyusun skripsi yang sampai saat ini keteteran. Hfhh, kalau liat teman-teman Ajeng yang sekarang sudah menikah, rasanya Ajeng juga pengeeen banget mbak, bukannya kenapa-kenapa, hanya saja Ajeng merasa sudah butuh seorang Imam. Eh,mbak Astri kapan nih kalau gitu? Ajeng nikahnya habis mbak Astri aja deh”” kataku balik menggodanya.

“”hmm..”” tiba-tiba ia terdiam, matanya menerawang jauh ke balik jendela yang menyajikan pemandangan petak-petak sawah. “”mbak juga sudah sangat ingin menikah Jeng, tapi mungkin saat ini Allah punya rencana lain untuk mbak lakukan”” ia beralih memandangku dan kembali tersenyum, menampakkan wajah teduhnya itu.

Tiba-tiba aku merasa bersalah telah menanyakan hal itu. Aku jadi teringat cerita dari Ibu beberapa bulan yang lalu, ketika mbak Astri akan dilamar oleh seorang lelaki yang kata orang-orang cukup baik. Ternyata lamaran itu tak jadi dilaksanakan, hanya karena orangtua lelaki itu tak setuju anaknya menikah dengan perempuan yang memiliki kaki tak sempurna seperti mbak Astri. Sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana rupa hati perempuan yang sangat lembut ini, pasti ia juga sedih. Tapi pada kenyataannya, mbak Astri tetap sama sampai saat ini, selalu menjalani hidupnya dengan ikhlas seperti dahulu.

***^^***

“ “Mas Danu serius?”” kalimat itu keluar dari bibirku dengan nada gembira sekaligus khawatir.

““iya Jeng,insyaAllah saya serius”” lelaki di hadapanku itu berkata dengan tampak meyakinkan. Aku dan Nurul hanya bisa saling berpandangan mendengar kalimat senior kami di kampus itu.

““Baiklah, kalau Mas Danu benar-benar serius, saya akan memberi tahu mbak Astri tentang kabar baik ini””

Orang yang kupanggil Mas Danu itu mengangguk mantap lalu meninggalkan kami sendiri di laboratorium.

““Jeng,kamu cerita apa aja sama Mas Danu? Kok beliau bisa-bisanya seyakin itu?”” Nurul bertanya penuh selidik padaku.

“”Aku ndak cerita berlebihan kok Rul, aku cuma bercerita tentang keseharian mbak Astri dan betapa aku sangat mengagumi beliau. Itu saja, tapi aku tak menyangka Mas Danu akan menanggapinya seperti itu””

““Kamu sudah bilang kalau mbak Astri itu,umm..”” kalimat Nurul menggantung.

““Belum, aku belum cerita masalah itu Rul. Aku ingin Mas Danu melihat sendiri keadaan mbak Astri, setelah itu biar ia sendiri yang memutuskan bagaimana kelajutannya.””

““Kamu yakin Mas Danu bisa menerima mbak Astri?”” terdengar ada keraguan di balik suara Nurul.

“”aku belum tahu, tapi Mas Danu yang kukenal itu adalah sosok lelaki sederhana yang shalih, setahuku ia adalah salah satu lelaki yang sangat sederhana walaupun ia seorang dokter, ia juga paham agama, seorang aktivis di kampus, walaupun sekarang sudah jadi dosen di sini rasanya kesederhanaannya dari dulu masih sama seperti aku mengenalnya sejak SMA””

Lelaki yang kupanggi Mas Danu itu adalah seniorku sejak SMA dulu, ketika aku kelas 1 ia sudah kelas 3 ternyata kami kuliah di tempat yang sama. Lelaki itu berbeda dengan lelaki yang pernah kukenal, ia pintar dan berprestasi sejak dulu, tapi ia juga adalah lelaki shalih yang sederhana dan mudah bergaul dengan siapa saja.

***^^***

Ahad pagi yang cerah, matahari mengintip malu dari balik awan putih, melukiskan seberkas sinar dari balik dahan-dahan pohon jambu di samping rumah. Ada yang berbeda dengan pagi ini, biasanya ahad pagi kugunakan untuk membantu pekerjaan rumah Ibu dan mengerjakan tugas-tugas kuliah, tapi pagi ini aku akan segera bergegas ke rumah Mbak Astri. Usai sarapan aku segera ke rumah Mbak Astri yang berjarak hanya 100 meter dari rumahku.

““gimana mbak? Udah siap?”” kataku menggoda.

“”siap apanya Jeng? Ya, seperti biasanya ini”” jawab mbak Astri sembari menyiapkan makanan untuk suguhan tamu. “”pagi ini kan acaranya cuma mau bersilaturrahim aja kan? Jadi mbak ndak perlu menyiapkan apa-apa selain ini””

Kulirik wajahnya sekilas,walaupun tampak tak begitu antusias, tapi aku tahu kalau hati perempuan yang berwajah cukup cantik ini sedang bahagia, ia pasti berharap kalau kali ini akan benar-benar mendapatkan lelaki yang tepat untuk jadi imamnya.

“”ahh,yang bener mbak? Ndak nyiapin apa-apa kok sampe bikin cemilan sebanyak ini? Hehehe”” aku menggodanya lagi.

“”ya kan ini namanya memuliakan tamu Jeng, masak ada tamu ndak dikasih apa-apa nanti?”” kulihat wajah mbak Astri, ternyata ada rona merah di sana.

““ciee, ok deh mbak. Ajeng ndak akan banyak protes deh,pipi mbak Astri udah kayak tomat tuh””

“aduhh…geli mbaakk” kali ini mbak Astri mulai menggelitiki pinggangku sambil tertawa kecil melihatku kegelian.

““Assalamu’alaikum”” terdengar suara lelaki dari balik pintu depan. ““mbak,mungkin itu Mas Danu,biar Ajeng yang buka pintu ya”” Mbak Astri mengangguk dan aku segera beranjak ke depan.

Mas Danu tak sendiri, ia bersama seorang lelaki lain yang tampak lebih dewasa. Segera kupersilahkan mereka masuk. Tak berapa lama, Ayah dan Ibu mbak Astri keluar menyambut dua tamu itu. Aku menemani mbak Astri di dapur menyiapkan hidangan. Suara obrolan hangat sudah mulai terdengar, dan aku bisa tahu bahwa Mas Danu ternyata cukup ramah dan mudah sekali memulai percakapan dengan orang tua.

Akhirnya kami keluar sambil membawa baki berisi minuman dan makanan yang masih hangat, mbak Astri di belakangku membawa buah-buahan yang dipetik dari pekarangan belakang rumah. Akhirnya obrolan-obrolan hangat mulai mengalir, mbak Astri bercerita tentang kesibukannya selama ini, begitu juga dengan Mas Danu, lelaki yang bersama Mas Danu itu tampak lebih banyak diam, hanya sesekali tersenyum saja menanggapi obrolan kami.

Pertemuan yang hangat itu akhirnya usai, meninggalkan sebuah kesan di hatiku sendiri. Entah mengapa melihat wajah Mbak Astri yang tampak lebih bahagia sore tadi membuatku ikut senang. Aku berharap semoga saja silaturrahim tadi berlanjut menuju proses selanjutnya.

***^^***

““apa??”” kataku setengah berteriak sambil memegangi ponselku yang menempel di telinga. Nurul yang tadinya sedang tilawah merasa terganggu lalu menoleh ke arahku.

“”apa itu artinya, ndak akan pernah ada khitbah Mas?”” kataku dengan nada sedih bercampur kecewa. Segera kututup telepon itu, tak terasa ada bulir-bulir bening mengalir di pipiku.

“”ada apa Jeng?”” Nurul menyentuh tanganku, aku hanya bisa tergugu bersandar di pundaknya.

Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan pada Mas Danu, tapi segala kemarahan dan kekecewaan itu langsung menguap menjadi air mata.  Kalau alasan penolakan itu karena keadaan Mbak Astri yang tak sempurna maka aku pasti akan sangat marah. Rasanya tak tega berkata kasar pada lelaki itu, tapi pada kenyataannya aku sudah terlanjur kecewa. Ingin sekali aku mengatakan padanya bahwa Mbak Astri bahkan jauh lebih sempurna daripada perempuan lain yang pernah ia kenal sebelumnya. Perempuan lembut itu tak hanya paham agama, tapi ia sosok penyabar dan penyayang, apalagi dengan keikhlasannya menjalani hidupnya saat ini, rasanya tak boleh ada lagi orang yang melihatnya sebelah mata. Di saat orang lain yang secara fisik jauh lebih sempurna tapi banyak melakukan kesia-siaan, Mbak Astri justru mampu melakukan banyak hal yang tak dilakukan oleh orang lain. Ia begitu ikhlas membantu sesama, bahkan ia habiskan sebagian besar waktunya untuk mengajar anak-anak yang kurang beruntung itu. Kekecewaanku semakin bertumpuk mengingat bahwa mas Danu adalah seorang lelaki shalih, kalau lah ia adalah lelaki biasa maka aku tak akan sekecewa ini. Terbayang, bagaimana nanti aku harus menyampaikan hal ini pada Mbak Astri.

***^^***

Sore itu aku langsung menemui mbak Astri di rumah baca. Seperti biasa ia sedang sibuk membereskan buku-buku yang telah digunakan mengajar.

““lho,Ajeng kenapa?”” mbak Astri memandangiku dengan wajah khawatir. Seakan ia mengerti apa yang akan kusampaikan, ia lalu beranjak memelukku. “”mbak Astri ndak apa-apa Jeng, tenanglah””

Aku hanya bisa menangis, tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

““maafkan Ajeng ya mbak””

““ndak apa-apa Jeng, Ajeng ndak salah apa-apa kok””

““tapi, Ajeng ndak terima mbak, Ajeng kecewa sama mereka””

““sabar Jeng, mbak bahkan sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya, jadi Ajeng tak perlu khawatir”” kupandangi wajah Mbak Astri lekat-lekat, kucari raut kecewa di sana, tapi ternyata tak ada, yang ada hanyalah bulir bening yang menyeruak dari balik kelopak matanya.

““Jeng, yang namanya jodoh itu sudah Allah yang mengatur, jadi kita tak perlu mengkhawatirkan apa-apa yang bahkan kita tak punya pengetahuan atas hal itu. Benar memang, menikah itu separuh agama, tapi bukankah agar ia menjadi genap kita harus memenuhi dulu yang separuhnya? Mungkin Allah ingin mbak memenuhi separuh agama yang lain Jeng, dan semoga dengan segala ikhtiar ini Allah jauh lebih ridho pada mbak”” kata-kata mbak Astri itu terucap begitu tulusnya.  Kulihat wajahnya lagi, seperti biasa, wajahnya selalu melukiskan keteduhan. Tak bisa kubayangkan kalau penolakan itu terjadi padaku, entah apakah aku masih bisa tersenyum menerima kenyataan itu.

““maafkan Ajeng ya Mbak…””

Tiba-tiba ponselku berderit, ada sebuah panggilan. Kulihat nama yang tertera di layar,membaca nama itu membuatku enggan untuk mengangkatnya.

“”Jeng,kenapa? Kok ndak diangkat?”” tanya mbak Astri heran, lalu ikut melihat layar ponselku. ““bicaralah padanya Jeng, mungkin ada hal penting yang ingin ia sampaikan”” mba Astri meyakinkanku.

““Assalamu’alaikum””

““Wa’alaikumussalam… Ajeng, kok tadi pagi teleponnya langsung ditutup? Saya belum selesai bicara. Apa Ajeng marah?””

““memang mau bicara apa lagi mas?”” kataku sedikit ketus.

““maaf kalau Ajeng marah, tapi tolong jangan berburuk sangka dulu. Ada hal yang harus Ajeng ketahui bahwa memang kami hanyalah lelaki biasa, lelaki yang kadang hanya bisa melihat dari luar saja. Ini masalah kemantapan hati Jeng, dan kalau setelah istkharah pun hasilnya belum yakin, apa harus dipaksakan?”” aku mengerutkan dahi, tak mengerti dengan ucapan lelaki itu.

““Jeng, tak semua lelaki itu bisa ikhlas menerima kekurangan fisik perempuan yang akan dinikahinya Jeng, dan saya rasa sangat wajar bila seorang lelaki ingin punya istri yang secara fisik sempurna. Bukankah perempuan juga demikian?””

Aku diam saja tak menjawab pertanyaannya.

““Maafkan beliau ya Jeng, mungkin memang bukan jodoh. Tapi kalau boleh saya akan datang lagi ke rumah mbak Astri membawa keluarga,”

““maksudnya gimana Mas?”” aku tambah bingung mendengar kalimat itu.

““ iya, maksudnya saya akan datang mengkhitbah mbak Astri Jeng. Sejujurnya sudah sejak awal Ajeng cerita itu saya ingin datang, tapi mas Irfan mengutarakan niatnya lebih dulu, karena itulah saya mengalah””

Kali ini aku melongo mendengar kata-kata mas Danu. Aku baru sadar kalau waktu itu Mas Danu datang bersilaturrahim ke rumah mbak Astri ternyata untuk mengantar mas Irfan.

“ “haloo Ajeng,ada apa? Ada yang salah lagi?”” lelaki itu terdengar khawatir.

““i..iiya, Ajeng denger kok Mas, jadii.. Mas Danu serius?”

“”Iya Jeng, saya serius.. pekan depan insyaAllah saya dan keluarga akan datang ke rumah mbak Astri, tolong sampaikan pada beliau ya. Semoga beliau ndak kecewa karena yang datang jauh lebih muda dan tak segagah lelaki sebelumnya”” kata Mas Danu sambil tertawa kecil.

Mbak Astri heran melihat raut wajahku yang berubah dari marah, bingung kemudian keheranan. Tanpa mengucap sepatah katapun, aku segera menghambur memeluk mbak Astri yang gantian melongo melihat tingkahku.

***^^***

Sebulan telah berlalu, tapi perasaan bahagia di hatiku selalu saja sama apalagi ketika melihat pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan itu. Pagi ini seperti biasa, kuluangkan waktu memandang ke rumah sebelah dari balik jendela kamarku. Di luar kulihat Mas Danu sudah berkemeja rapi dan mbak Astri sudah siap dengan gamis coklat dan kerudung coklat muda membalut wajahnya, ia tampak cantik sekali seperti biasanya. Sudah dua pekan ini pasangan itu tampak berdua tiap pagi, Mas Danu tiap hari mengantarkan mbak Astri berangkat ke sekolah seperti hari ini.

Alangkah bahagianya melihat pasangan itu, sungguh beruntung lelaki yang memiliki istri sebaik dan seshalihah mbak Astri. Dan sungguh beruntung perempuan yang memiliki suami seikhlas dan seshalih mas Danu yang tak mengutamakan kesempurnaan fisik, tapi kebaikan akhlak dan agama sang istri.

“”hmm,semoga mereka berbahagia hingga jannahNya nanti…”” aku bergumam seorang diri sambil tersenyum melihat pasangan itu berlalu berangkat menuju ladang amalnya.

Rabu, 28 September 2011

[note color=”#DDFF99″]Terinspirasi dari kisah-kisah nyata. Entah kenapa, saya selalu terharu terhadap suami juga istri yang dengan ikhlas menerima kekurangan pasangannya, tak hanya kekurangan akhlak, tapi bahkan kekurangan fisik. Semoga saja Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasihNya untuk pasangan yang berbahagia itu…^^ [/note]

 

Leave a Comment