Cerbung UkhtiShalihah

Pemilik tulang rusuk itu… (Part 3)

Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian terhentinya proses taarufku dengan Akh Irfan, rasanya kini perasaanku sudah jauh lebih baik. Aku tak lagi merasakan perih dan trauma yang dulu sempat kutakutkan ternyata tak jadi kenyataan. Sudah saatnya menata hati dan semangatku lagi. Pekan depan wisuda sudah akan dilaksanakan, dan setelah itu aku akan resmi mendapatkan gelar sarjana psikologi.

Hari ahad yang cerah ini kugunakan untuk pergi mengikuti kajian bersama Rina dan Nisa. Beruntung sekali kami bertiga bisa lulus dalam waktu yang sama dan setelah ini entah aku tak tahu akan kemana langkah kaki ini menuju. Melanjutkan kuliah atau menikah rasanya adalah pilihan yang sama-sama membuatku antusias. Mungkin aku perlu waktu untuk rehat sejenak sembari memikirkan pilihan-pilihan yang bisa kuambil.

“”Zahraaa…”” suara Rina terdengar dari arah pintu gerbang masjid. Kulihat dua orang gadis berjilbab berjalan pelan mendekatiku.

“”maaf ya telat, kami tadi baru aja lihat-lihat stand buku di luar gerbang masjid. Ternyata bagus-bagus Ra”” kata Nisa bersemangat.

“”iya deh, nanti habis dari kajian mampir sebentar, yuk masuk dulu, kayaknya udah mau mulai”” segera kami masuk ke ruang utama masjid mengikuti kajian pranikah yang baru pertama kali kuikuti.

Kuperhatikan wajah Rina selama kajian, ia tampak murung sejak aku melihatnya tadi pagi. Entah kenapa, ada yang aneh dengannya karena bukan kebiasaannya berwajah murung seperti itu.

“”Rin,kamu kenapa? Kok murung dari tadi? Ada masalah? Mau cerita?””

““ihh,kamu nanya apa wawancara sih Ra?”” kata Rina manyun, aku dan Nisa tersenyum mendengar jawaban Rina itu.

““umm,sebenarnya aku udah pengen cerita sejak kemarin Ra, tapi aku ragu..umm,afwan ya Ra”” katanya sambil menatap halaman masjid yang dipenuhi daun-daun kering yang jatuh terbawa angin.

““cerita apa sih Rin? Kamu bikin aku penasaran?sini cerita aja ndak apa-apa”” kataku sambil menyentuh pundaknya.

““Iya Rin,ceritalah,kayak sama siapa aja pake ragu segala”” Nisa menambahi.

““beberapa hari yang lalu, Abangku cerita kalau pekan kemarin Abang datang ke akad nikah akhwat temannya di kampus, dan ternyata di sana Abang bertemu dengan… Akh Irfan””

“”ohh,terus kenapa dengan Akh Irfan Rin?”” aku bingung dengan cerita Rina.

““eh bukannya Akh irfan ada riset di Australia ya? ini kan baru dua bulan? Apa risetnya udah kelar?”” kata Nisa sambil memainkan ujung jilbabnya, ia tampak sedang berpikir. Mendengar kalimat Nisa tak urung membuatku juga ikut berpikir, seingatku dulu Akh Irfan bilang kalau riset itu dilakukan hampir 6 bulan lamanya.

“”Maka dari itu, Abangku juga bingung kenapa Akh Irfan ada di sini Nis””

“”Jadi Akh Irfan itu juga mengenal teman Abangmu yang menikah ya Rin?”” kali ini aku penasaran sekali apakah hanya karena mendatangi walimahan teman ia sampai meninggalkan risetnya yang penting itu.

““umm, bukan hanya kenal Ra.. tapi,Akh Irfan adalah mempelai lelakinya…”” kata Rina hati-hati sembari menatap wajahku.

“”ya Allah..beneran Rin?”” tanya Nisa tak percaya.

Rina hanya menganggukkan kepala. Sedangkan aku hanya bisa terdiam mendengar cerita Rina itu.

“”Ra, kamu ndak apa-apa kan?”” tanya Rina khawatir.

““Subhanallah, kita memang ndak pernah tahu apa skenario Allah ya, mungkin ini memang yang terbaik buat kami Rin, aku ndak apa-apa kok, tenang aja””

““kemarin Abang juga kaget Ra, tiga hari usai walimahan itu Abang sempat menabayunkan pada Akh Irfan apakah pembatalan khitbah denganmu itu ada hubungannya dengan akhwat teman Abangku. Dan ternyata beliau mengiyakan, jadi sebelum ta’aruf denganmu, sebenarnya Akh irfan sudah tertarik pada akhwat lain, tapi sudah lama mereka tak bertemu dan  mereka baru bertemu justru di saat khitbah denganmu sudah terlaksana, karena itulah Akh Irfan menjadi ragu dan memutuskan untuk tidak melanjutkan proses itu. Awalnya Abangku ingin sekali marah, tapi  Abang lebih memilih untuk diam””

““Subhanallah….”” kataku parau, suaraku rasanya tercekat di tenggorokan. Ada bulir bening yang menyeruak dari kelopak mataku.

“”Ra..sabar ya,mungkin sudah begini jalannya, dan aku tahu Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik”” Rina menggenggam jemariku erat, Nisa ikut merangkul pundakku.

““iya,aku ndak apa-apa kok,kalian tenang aja, justru aku sangat bersyukur, Allah sayang sekali padaku sehingga Allah menjagaku dengan cara seperti ini. Allah menjagaku dari perasaan khawatir kalau nanti beliau tak bisa mencintaiku dengan tulus karena sudah ada akhwat lain di hati beliau. Kalau lah pernikahan kami waktu itu terlaksana, belum tentu aku akan merasa bahagia, dan belum tentu beliau bisa tulus menerimaku sebagai istrinya. Dan akan lebih baik begini, beliau sudah mendapatkan akhwat yang tepat untuk jadi pendamping hidupnya” Aku berusaha tegar, tapi bulir bening itu tetap saja mengalir membasahi jilbabku.

““tapi dia itu ikhwan,tega sekali memperlakukan akhwat seperti ini,kalau memang tak yakinkenapa harus tetap ta’’aruf dan setelah itu dia juga yang membatalkannya”” suara Nisa mulai meninggi.

““sudah lah Nis, sabar, aku ndak apa-apa kok””

““waktu itu Akh Irfan juga cerita pada Abang, kalau.. beliau takut tak bisa menerimamu dengan sepenuh hatinya, dan beliau takut kalau pernikahan itu hanya akan menyakiti hatimu Ra, jadi beliau pikir pembatalan khitbah itu menjadi solusi terbaik, dan lagi hal itu memang bertepatan dengan keberangkatan beliau untuk riset, jadi beliau memang tak berbohong tentang alasan riset itu””

““Iya Rin, aku paham sekali. Di mataku,beliau tetaplah seorang ikhwan yang baik. Dan mungkin begini jauh lebih baik untuk kami””

Siang itu akhirnya aku pulang ke rumah dengan perasaan lega, karena akhirnya aku tahu alasan yang sebenarnya. Tapi kalau lah aku tak tahu kabar ini, aku sendiri sudah ikhlas tentang apapun yang beliau lakukan. Sudah saatnya bagiku menata hidupku, aku tak ingin ada perasaan trauma atau sedih terus menerus. Biarlah semua ini menjadi pembelajaran..

***^^***

Pagi yang hangat, sinar matahari menyapa lembut dari balik jendela. Kubuka jendela kamar lebar-lebar, mempersilahkan udara masuk. Hangatnya sinar matahari menerpa wajahku yang terbalut kerudung merah marun,warna kesukaanku. Kuambil sebuah kartu yang tergeletak di meja belajar, kubaca ulang tulisan yang tertera di sana.

“”Barakallah ya Ukhti, semoga dimudahkan segala urusannya, dan semoga ilmunya lebih barokah usai mendapatkan gelar sarjana ini” –-Sunflower-“

Kubolak-balik lagi kartu itu, kucari nama pengirimnya tapi tetap tak bisa kutemukan. Hanya tulisan “sunflower” di sudut kertas. Kuperhatikan rangkaian bunga matahari yang sudah kutaruh di sebuah vas, ““hmm,siapa ya yang iseng mengirimkan bunga dan kartu ini?”” aku bergumam sendiri. Kemarin usai pulang dari acara wisuda aku menemukan bunga dan kartu itu tergeletak di meja taman depan rumah. Sampai saat ini aku masih tak tahu siapakah pengirim bunga itu.

Jam dinding menunjukkan pukul 6.45. Sudah saatnya aku berangkat ke tempatku mengajar. Kini aku punya kesibukan baru, dua bulan sebelum wisuda aku sudah mengajukan lamaran mengajar di sebuah SDIT, dan akhirnya aku diterima. Ini adalah hari pertamaku mengajar, jadi aku ingin mempersiapkan segalanya agar bisa mengajar dengan baik.

***^^***

Hampir dua pekan berlalu, aku sudah mulai menikmati profesiku sebagai seorang guru, di SD IT itu aku dipanggil Ustadzah, selain mengajar bahasa inggris dan mengaji, aku juga diberi amanah untuk memberikan konseling karena itulah aku sangat dekat dengan anak-anak.

Pernah suatu ketika ada seorang anak yang bercerita padaku kalau ia suka dengan temannya. “”Kalau Ustadzah, dulu pernah suka ndak sama seorang Ustadz?”” kata gadis berkerudung oranye di depanku dengan polos. Aku tersenyum mendengar pertanyaan gadis kelas 3 itu.

“”umm,pernah ndak ya? mungkin pernah, memang kenapa Sayang?””

““Ustadzah bilang kalau suka sama orang itu?””

““umm….”” aku mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat lagi kenangan di masa  kecilku. “”Ustadzah lupa..hehehe”” kataku kemudian tertawa.

““iihh,Ustadzah kok lupa sih? Besok kalau sudah ingat kasih tau Dinda ya?”” kata gadis itu sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi  yang membuatnya tampak lebih cantik.

“”Oke. InsyaAllah ya Dinda””  Gadis yang kupanggil Dinda itu kemudian pergi meninggalkanku sendirian di kelas. Aku mulai membereskan buku di meja dan beranjak kembali ke ruang guru.

Baru saja aku akan meletakkan buku-buku, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah bingkisan kecil di atas mejaku.

“”Ukhti Zahra, ini untuk berbuka puasa nanti sore” –-Sunflower-“

Lagi-lagi, ada kiriman misterius untukku. Entah sudah kali keberapa aku mendapatkan bingkisan seperti ini, pekan lalu aku sudah mendapatkan sebuah buku. Kubuka bingkisan itu, ada sekotak kurma dan sebatang cokelat putih, dua makanan yang sangat kusukai . Terlebih ketika berbuka puasa dua makanan itu tak pernah ketinggalan. “”hffh…sebenarnya kau siapa?””

Waktu aku bercerita pada Rina dan Nisa, mereka hanya tertawa. Mereka bilang mungkin itu dari siswaku, tapi sungguh aneh karena tulisan di kartu itu bukan tulisan anak kecil dan benda-benda itu merupakan benda kesukaanku, bagaimana bisa siswa-siswaku tahu. ““secret admirer kali Ra,hehehe”” kata Rina menggodaku waktu itu.

““ya Allah, aku ingin suami bukan sekotak kurma, atau coklat ini…”” kataku siang itu sambil memandangi bunga matahari yang tumbuh subur di halaman sekolah.

***^^***

““Sayang, nanti sore siap-siap ya”” kata Bunda ketika melihatku masuk ke dalam rumah sepulang dari mengajar.

“”ehh,siap-siap apa Bund?””

““lho, Zahra lupa? Kan nanti teman Ayah mau datang ke rumah””

“”oiya,nanti Zahra bantu Bunda nyiapin masakan deh””

““ndak perlu Sayang, yang perlu kamu lakukan adalah dandan yang rapi, Oke?””  kata Bunda sambil tersenyum.

“”ihh,Bunda kenapa sih? Hayo,ada apa sih Bund? Kok kayaknya ada yang aneh,ndak biasanya Bunda minta Zahra dandan””

Bunda hanya tersenyum melihatku yang kebingungan.Akhirnya sore itu aku membantu Bunda memasak. Kali ini kami tak hanya berdua, beruntung Rina dan Zahra sedang luang jadi mereka bisa membantu.

***^^***

Malam ini tampak cerah, bulan tampak tersenyum di balik awan putih yang sesekali menghampiri. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Suasana malam yang begitu indah. Rina dan Nisa sedang dikamar membantuku memilih baju yang akan kupakai.

““ehh Ra, ini gamis yang akan kamu pakai dulu itu kan?”” kata Nisa sambil mengambil sebuah gamis putih berenda dari dalam lemari bajuku.

““iya Nis,baju itu belum pernah kupakai””

““ohh…jadi pengen segera melihatmu pakai gamis ini Ra”” Nisa memandangi gamisku lalu tertawa kecil.

“”doakan aja ya, aku juga ingin segera mengenakan gamis itu ketika walimatul urs nanti”” kataku sambil memakai jilbab berwarna krem. Rina dan Nisa saling berpandangan kemudian tertawa melihatku.

“”ehh,kalian kenapa sih? Kayak Bunda deh, jadi aneh begitu”” aku heran melihat tingkah mereka berdua.

***^^***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.35. Terdengar suara deru mobil dari arah luar. Aku segera bergegas menemui Bunda. ““itu tamunya Bund?””

““iya Ra,kamu siap-siap ambil makanan ya nanti, Ayah sama Bunda ke depan menyambut tamu dulu””

Aku segera ke dapur bersama Nisa dan Rina menyiapkan minuman dan menata hidangan. Dari arah ruang tamu terdengar obrolan hangat. Kali ini tamu Ayah ada 2 mobil, padahal biasanya tak seramai itu.

“”Zahraa, ke sini Nak”” kata Bunda dari ruang tamu. Aku segera keluar membawa baki berisi minuman ditemani Nisa dan Rina yang membawa baki berisi makanan.

“”MasyaAllah…ini Zahra, cantik sekali kamu nduk sekarang”” suara seorang wanita yang cukup familiar membuatku mendongak menatap wajahnya. “”ehh,Ummi Nur apa kabar Ummi?”” aku menyalami wanita seusia Bunda itu, kemudian wanita itu memelukku erat. Aku tak mengira bahwa yang datang bertamu adalah keluarga Pak Hanafi, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Abah. Abah adalah teman dekat Ayah yang dulu tinggal bersebelahan rumah, tapi karena pindah tempat kerja, membuat Abah membawa semua keluarganya pindah rumah ke Bandung.

Aku segera duduk di sebelah Bunda. Aku tak tahu bahwa dari tadi ada sepasang mata yang memperhatikanku. Obrolan hangat pun mulai mengalir, di saat tamu mulai menikmati hidangan, aku baru berani memperhatikan tamu satu per satu. Tiba-tiba mataku bertemu dengan sepasang mata tajam milik seorang lelaki. “”Astaghfrullah…”” aku lalu menunduk, tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, tanganku mulai berkeringat dingin. Rina dan Nisa tersenyum memperhatikanku yang salah tingkah.

““hmm,jadi begini Pak Andi, kedatangan kami sekeluarga ke sini sebenarnya bukan hanya sekedar bersilaturrahim, setelah 13 tahun lamanya ndak bertemu, tapi kami juga punya urusan lain” kata Abah kemudian melirik lelaki di sampingnya. “saya datang secara langsung untuk melamar putri Pak Andi untuk anak lelaki saya, Hamid””

“”MasyaAllah, baiklah Pak Hanafi,tapi saya belum bisa menjawab sebelum putri saya memberikan jawaban. Gimana Nak? Jawaban lamaran itu Ayah serahkan sepenuhnya padamu”” kata Ayah sambil memegangi tanganku. Aku hanya bisa diam, aku semakin menunduk tak berani mengangkat wajahku dan degup jantungku semakin cepat.

“”biasanya ini ya, diamnya perempuan itu artinya mengiyakan,ya kan Nak Zahra?””  semua yang ada  di ruang tamu tertawa mendengar kata-kata Abah. Entah aku tak tahu mungkin wajahku saat ini sudah semerah buah tomat.

Beberapa menit diam, akhirnya aku menganggukkan kepala.

“”Alhamdulillah…”” terdengar tahmid dari semua tamu di ruang itu.

“”Bagaimana kalau ndak usah lama-lama Pak Andi, sekarang saja akad nikahnya jadi pekan depan tinggal meyiapkan walimatul urs nya saja? Gimana Mid, kamu siap”“ Kalimat Abah membuatku melongo. Lelaki di sebelah Abah mengangguk mantap.

““Gimana Nak? Siap?”” Ayah gantian bertanya padaku. Dan lagi-lagi, aku mengangguk.

Akhirnya, malam itu juga akad nikah terlaksana dan Ayah sendirilah yang menikahkanku. Tak henti-hentinya kalimat syukur kuucapkan. Ternyata, Allah menjawab doaku dengan cara yang tak pernah kubayangkan. Jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul 21.15. Abah sekeluarga dan para tamu sudah pamit pulang, Nisa dan Zahra juga berpamitan, sebelum pulang mereka memelukku satu persatu. “”Barakallah ya Ra, kami ikut bahagia”” kata Rina sembari mengusap sudut matanya.“”Oiya, ingat besok pas walimatul urs gamis putihnya dipakai ya””  kata Nisa menggodaku.

Halaman rumah sudah sepi, tak ada lagi mobil yang terparkir. Ayah dan Bunda sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, tinggal aku dan seorang lelaki di sampingku. Aku bingung harus berkata apa pada lelaki yang dari tadi memandangiku itu, aku terus menundukkan kepala, belum usai kekagetanku dan degup jantungku belum juga normal.

““Assalamu’alaikum istriku…”” kata lelaki itu sambil mendekat ke arahku. Walaupun sudah lama tak bertemu, aku masih ingat dengan jelas detail wajah lelaki itu. Ia tak banyak berubah, hanya saja kini ia tampak sangat dewasa dengan postur tubuhnya yang tinggi dan jenggot tipis di dagunya.

““umm,wa’alaikmussalam..”” kataku kikuk dipanggil begitu.

“”heii,ndak usah grogi begitu dong Ra, padahal dulu kamu kan bukan anak pemalu, kamu kan yang dulu lebih suka usil padaku?”” aku menatap lelaki itu, ada sorot jenaka di wajahnya, sama seperti 13 tahun yang lalu saat kami masih suka bermain layangan bersama.

““sini, duduk”” ia mengajakku duduk di kursi kayu depan rumah. Aku masih diam tak berani memandang wajahnya.

“”Ra, kamu marah kah?””

““Kenapa harus marah sama Abang?””

“karena dulu aku pindah rumah””

“”umm,ndak juga””

“”Ra, kamu pernah ndak kangen padaku?””  Pertanyaan lelaki itu membuat wajahku merona merah. Aku diam lagi.

““hmm,diam berarti iya”” katanya menggoda.

““ihh,siapa bilang. Bang Hamid GR deh”” kataku manyun.

““ehh,dulu siapa yang bilang ingin dinikahkan denganku?””  senyum lelaki itu makin lebar dan wajahku semakin memerah.

““jadi Bunda cerita sama Abang?” ” lelaki itu malah tertawa. Aku tak mengira bahwa kata-kataku ketika kelas 3 SD dulu ternyata Bunda ceritakan pada Bang Hamid.

““tenang, Bunda baru cerita tadi habis akad nikah tadi,hehehe, Abah sama Ummi juga sudah tahu kok””

“”ahhh,Bunda jahaatt..”” aku tambah manyun.

“”Ra,aku kangen sekali padamu…tau ndak, sejak kepindahanku waktu itu aku sering merengek pada Abah minta pulang ke sini, tapi karena Abah terlalu sibuk jadi kami belum sempat kemari.Maaf ya..””

““ihh,kirain Abang udah lupa sama Zahra”” kali ini ada sedikit perasaan sebal di hatiku. “”umm, selama 13 tahun ini, apa Abang belum merencanakan pernikahan dengan gadis lain..?””

“”asal kamu tahu ya Ra, selama aku nyantri di pondok aku sempat mau dinikahkan dengan anak Pak Kyai,makanya aku segera lanjut S2 ke Jepang dan pulang melamarmu””

Aku tertawa mendengar cerita lelaki yang kini sudah menjadi suamiku itu. ““Zahra juga iya Bang, Zahra sempat akan menikah dengan lelaki lain, tapi batal, dan Ayah juga sempat akan memperkenalkan Zahra dengan putra teman Ayah, tapi akhirnya ndak jadi””

Bang Hamid terdiam cukup lama, sambil memandangi bunga yang tumbuh di halaman. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

““Ra,sejujurnya.. aku menyukaimu sejak kita masih SD dulu, tapi kurasa itu adalah cinta masa anak-anak, tapi beruntung sekali sekarang kau sudah menjadi istriku. Umm, kau juga suka padaku kan Ra?””

Aku diam lalu menggeleng pelan. “”apa Ra?jadi kamu…””

““iya, Zahra..ndak cuma suka,tapi sekarang juga cinta sama Abang”” kataku sambil menunduk.

Bang Hamid tertawa kecil. “”Ra, sekarang kita sudah menikah, jadi boleh kan aku menyentuhmu?”” dia mendekatkan wajahnya padaku. Degup jantungku semakin memburu. Wajahnya dan wajahku hanya berjarak 5 centi, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah bunga matahari tepat di depan wajahku.

““ihhh,Abang nakal” ” kucubit lengannya gemas, dia tertawa, puas menjahiliku.

““jadi,selama ini Abang yang iseng mengirimkan bunga dan bingkisan itu?””

“”hehehe…iya,itu kulakukan sekalian untuk memastikan bahwa kau belum bersuami Ra,hehehe””

“”Dasar nakal”!”

““tapi kau suka kan?”” katanya menggoda lagi. “”dan sampai saat ini kau tetap menjadi bunga matahari yang selalu bersinar di hatiku, semakin lama semakin terang”” Ia mulai menggobal dan membuat wajahku sudah seperti buah tomat. “”ehh lihat,itu bulannya mengintip malu”” kata Bang Hamid sambil menunjuk bulan sabit di langit. Lalu tiba-tiba sebuah ciuman sudah mendarat di pipiku.

“”Abaaang….””

Wajahku semakin merona kemerahan. Malam itu lengkap sudah kebahagiaanku. Bulan dan bintang-bintang mulai beranjak ke peraduan, seperti kami yang mulai merajut mimpi berdua.

***^^***

“”jadi gimana Ustadzah?”” Dinda menemuiku di taman halaman sekolah.

“”umm,jadi…dulu Ustadzah pernah suka sama seorang teman ketika seusia Dinda, dan lelaki itu anak kelas 6. Tapi dulu Ustadzah ndak pernah bilang sama lelaki itu kalau Ustadzah suka””

““yaaahh” Dinda tampak kecewa. “”tapi orang itu tau ndak kalau Ustadzah suka?””

“”umm,iya..lelaki itu tau kok kalau Ustadzah suka””

“”kapan Ustadzah bilangnya?””

“”tadi malam..”” kataku sambil tersenyum.

“”siapa orangnya Ustadzah? Dinda pengen tahu””

“”itu dia orangnya..”” kataku sambil menunjuk seorang lelaki tampan yang sedang bermain bola di halaman dengan anak-anak.

““yang itu? Itu kan suami Ustadzah..””

“”memang iya, itu suami Ustadzah..dan itulah orang yang dulu Ustadzah sukai pertama kali…””

***^^***

[quote style=”1″] Maybe God wants us to meet a few wrong people before meeting the right one,so that when we finally do meet the right person, we should know how to be grateful for that gift  [/quote]

Seperti kalimat bijak di atas, mungkin Allah sengaja mempertemukan kita dengan orang yang “salah” sebelum kita bertemu dengan orang yang “benar”, agar kita benar-benar bisa jauh lebih bersyukur. Bila pernah suatu ketika, kau harus berpisah atau engkau tak berjodoh dengan seseorang yang menurutmu adalah orang yang baik, maka tak usah kau kecewa, mungkin  dengan cara inilah Allah menjagamu dari keburukan yang belum kau ketahui dari orang itu, atau memang Allah akan menggantinya dengan orang yang jauh lebih baik. Karena pilihan Allah itu tak pernah salah, dan Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita ^^

Ahad, 2 Oktober 2011

Baca juga cerita sebelumnya, Part 2

1 Comment

Leave a Comment