Cerpen Karya Ukh Sha UkhtiShalihah

Mari belajar cinta dari mereka ^^

Menjaga, menata, lalu bercahaya…

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihan yang yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia sering merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khitbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

“”Subhanallah.. wal hamdulillaah”..”,girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

““Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah.Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya””, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

“”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, “Menerima anda berdua,shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan oada puteri kami”.” Tuan tumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dnegan segala debar hati.

“”Maafkanlah kami atas ketersuterangan ini””, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya.” “Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.””

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan ironis, sekaligus indah. Sanga puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pemalarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; rekasi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berrebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

“”Allahu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kuperisapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!””

Oleh Ustadz Salim A Fillah

***^^***

Ini adalah penggalan materi handout seminar pra nikah yang setahun lalu ayu ikuti. Dan kisah di atas tampaknya ada di buku Jalan cinta para pejuang.^^

Subhanallah.. membaca kisah itu selalu memberikan kesan tersendiri buatku. Betapa ujian keikhlasan selalu datang bagi mereka yang berani jatuh cinta di jalan Nya. Mungkin akan beda cerita  bila bukan shahabat-shahabat yang mulia itu yang diuji. Bagaimana bila kita? Ahh,mungkin kita belum mampu berbesar hati seperti beliau, Salman Al Farisi.

Betapa banyak kini, para penggiat dakwah yang mundur teratur dari barisan. Kenapa? Hanya karena masalah hati, yang mungkin terlihat kecil dan remeh di mata sebagian orang. Tapi bukankah hati itu adalah penentu baik buruknya kita?

Wahai saudaraku… jalan kita masih begitu panjang. Jangan kalah hanya karena secuil harap yang tak tersampaikan. Karena harusnya itulah yang membuat kita bersemangat untuk terus menggali hikmah yang ada. Mempersiapkan diri untuk menjemput ketetapan Allah yang lain, dan yang sudah pasti lebih indah untuk kita.

^______^

*tunggu part 2nya yaa.. akan ada beberapa bekal yang harus disiapkan menuju pernikahan lho..

Oiya,bagi yang mau ngopi handoutnya boleh banget lho. Silahkan datang aja ke Gizi kesehatan FK, nanti ayu pinjemin buat dikopi ^^

Semoga bermanfaat..

Sabtu, 25 Juni 2011

Leave a Comment