Cerpen UkhtiShalihah

Lelaki terkaya di dunia…

Pagi. Di sebuah rumah mungil sederhana yang tampak asri.

““Hati-hati di jalan ya Yah”” kata seorang wanita muda sembari menyerahkan sekotak bekal buatannya sendiri pada lelaki berkemeja rapi di hadapannya. ““ini,Bunda buatkan rendang kesukaan Ayah””. Lalu wanita itu mencium tangan kanan suaminya, sebelum kecupan sang lelaki mendarat di keningnya.

““Bunda juga hati-hati ya di rumah, jaga anak-anak baik-baik”” kata lelaki itu beralih memandangi dua bocah kecil yang sedang bermain di lantai dengan spidol dan buku gambar. “”Mas Alif sama dek Nurul di rumah baik-baik ya,jangan lupa bantuin Bunda””

Alif yang berusia 5 tahun dan Nurul yang berusia 3 tahun berlari-lari kecil menghampiri lelaki itu, bergelendot manja lalu bergantian mencium tangannya. Lelaki itu memeluk kedua bocah itu dengan penuh rasa sayang.

“”Oke.ayah berangkat dulu. Assalamu’alaikum””

““walaikumussalam,hati-hati ayaaah””

***^^***

Pagi. Di sebuah rumah mewah berlantai 2 dengan pagar tinggi melingkupi sekelilingnya.

““Pah,Mama berangkat dulu ya,hari ini mau nyalon terus arisan sama temen-temen kantor, mungkin habis itu mau sekalian belanja,baju-baju mama udah pada kepake semua,Mama malu kalo pakai baju lama”” kata seorang wanita cantik dengan rambut tergerai dan make up tebal di wajahnya. Ia tengah sibuk memilih perhiasan yang sesuai dengan blus berwarna merah muda yang melekat mengikuti bentuk tubuhnya.

“”hmm,bukannya kemarin Mama habis belanja juga ya? Memang apa lagi yang kurang Ma?”” kata seorang lelaki paruh baya sembari menenteng tas kantor di tangan kanan dan jas abu-abu di tangan kiri.

““ihh,si Papa,kemarin Mama habis belanja kosmetik tahu,nanti mau belanja baju sama sepatu baru, gak enak banget Pah sama temen arisan,mereka sering gonta-ganti kostum tiap arisan. Papa sih gak perhatian banget sama Mama”” kata wanita cantik itu dengan wajah manyun sambil mendekati sang lelaki.

“”Oke.terserah Mama aja, tapi kali ini pakai uang Mama sendiri ya”.” Kata lelaki itu datar.

““ihh,Papa peliiiit…””

Lelaki itu tak menghiraukan ucapan istrinya, ia berlalu menuju ruang makan.

““Ma,ndak ikut makan?”” tanya lelaki itu pada istrinya yang berjalan melewati meja makan.

““enggak,Papa sarapan aja sendiri,Mama mau makan sebelum nyalon aja.”” Katanya sambil berjalan cepat menuju pintu sembari sibuk memencet-mencet tuts handphone terbarunya sambil sesekali tersenyum.

““hfhhh….”” lelaki itu menghela napas berat. Ia hanya makan beberapa suap nasi dan sayur yang dimasak oleh Mbok Yem, pembantu yang dengan telaten memasak sarapan dan mengurus rumahnya selama ini.

***^^***

Pagi. Di sebuah apartemen mewah di tengah kota.

Seorang lelaki tengah sibuk membuat sandwich isi telur dan sayur di sebuah pantry dengan peralatan mewah. Suara televisi layar datar 32 inchi terdengar nyaring dari ruang tengah. Roti bakar hangat beraroma harum keluar dari alat pemanggang. Segera Ia isi dengan selada,tomat dan telur dadar. Ia bawa satu nampan sandwich dengan segelas kopi yang masih mengepulkan asap menuju ruang tengah.

Ia menikmati sarapan itu sendiri, seperti biasa. Ditemani koran edisi terbaru ia habiskan potong-potongan sandwich. Lalu beranjak berganti dengan jas mewah dan meninggalkan apartemen luasnya menuju kantor yang letaknya tak jauh dari sana.

Apartemen yang mewah dan luas itu tampak sepi dan lengang ditinggal penghuni satu-satunya. Hanya ada cleaning service yang beberapa kali datang untuk membersihkan apartemen itu.

***^^***

““Bund, hari Ahad besok Ayah mau ketemuan sama teman-teman lama”” kata lelaki berwajah tampan itu sembari membolak-balik buku tebal di tangannya.

““ohh,mau pergi jam berapa Yah? Hari senin kan Mas Alif sudah masuk TK jadi Bunda janji mau ngajak jalan-jalan beli buku,kemarin ada yang kelupaan””

““iya,Yaaahh,besok Ayah ikut yaaa”” kata Alif manja sambil memandangi wajah Ayahnya.

““Nulul juga ituuuutt”” si kecil Nurul tak kalah manja sambil tersenyum pada kakaknya meminta persetujuan.

“”ohh,jadi begitu.ok.kalau begitu besok ahad kita jalan-jalan ya ke toko buku,nanti biar teman-teman Ayah yang main ke sini”” kata Ayah kedua bocah itu sambil tersenyum.

““horeeeee..ehh,makasiii Ayaaahh”” kedua bocah itu menghadiahi Ayah mereka dengan pelukan dan ciuman di pipi. Sang Bunda hanya memandangi polah kedua buah hatinya itu, terharu karena kini mereka sudah tumbuh besar dan pintar.

***^^***

Siang. Di bawah pohon jambu yang tumbuh subur di pekarangan belakang rumah.

Terhampar sebuah tikar di atas rerumputan. Di atasnya ada berbagai macam buah-buahan yang telah dipotong kecil-kecil. Seorang wanita berkerudung lebar tengah sibuk mengulek bumbu di dapur. Alif dan Nurul turut bergabung dengan tiga orang lelaki dewasa duduk di atas tikar. Mereka sibuk membolak-balik buku cerita baru yang diperoleh dari tamu Ayahnya.

“”wahh,dari dulu kamu nggak berubah ya rif,begini-begini aja sejak SMA,padahal kan dulu kamu kuliah di universitas ternama,lulus cumlaude lagi”” kata lelaki berkaos biru sambil tersenyum.

““kayak nggak tau aja kamu Ndra,Arif kan sejak dulu emang sederhana orangnya, emang kamu apa yang suka buang-buang duit? Gimana perusahaan orangtuamu? Kamu yang pegang kan sekarang? Jadi orang kaya juga nih kayaknya”.” Tanya lelaki berkaos turtle neck sambil tertawa.

““iya ni,apa kabar orangtuamu Ndra? Dulu ketika SMA kamu pernah cerita kalau Ayahmu sakit””. Tanya lelaki bernama Arif.

““hmm,iya,sejak sepeninggal Ibu,Ayahku sakit-sakitan. Beliau sudah meninggal hampir setahun yang lalu.””

““innalillahi,kok kamu ndak ngabari Ndra?”” Arif bertanya lagi ikut prihatin.

““iya,sorry,waktu itu posisi sedang di Padang,di rumah keluarga Ayah. Jadi pemakaman dilakukan di sana”.” Kata lelaki bernama Indra itu sembari menatap bunga mawar yang tumbuh subur di dekat kolam kecil. ““Kalau kamu gimana Her? Udah ada calon belum? Kapan mau nikah?”” Indra mengalihkan pembicaraan.

“”ahh,belum.kerjaan di kantor banyak,belum sempat mikirin nikah”.” Kata lelaki berwajah indo itu santai.

““kamu nggak kesepian tinggal di apartemen mewah sendirian?”” tanya Indra lagi. “”Gue mah lebih milih tinggal sama istri,hahaha”” kata Indra kali ini sambil tertawa sedikit menyindir Heri yang sampai usianya sudah kepala tiga ini belum menikah juga.

““lha,kamu sendiri? Mana istrimu yang cantik itu? Kok nggak diajak?””

““iya Ndra, istrimu mana?”” Arif ikut bertanya.

Tiba-tiba raut muka Indra berubah keruh. “”ohh,tadi Mona bilang ada acara sama teman-teman kantornya””

““sibuk banget ya?kok hari libur tetep ada acara?”” tanya Arif keheranan, karena selama ini istrinya selalu ada di rumah, dengan sabar merawat kedua anaknya yang beranjak besar,kalaupun ada acara di luar seperti pengajian atau arisan,anak-anak pasti diajak.

““yah,tahulah acara wanita,emang istrimu ndak sibuk Rif?”” Indra balas bertanya.

Wanita yang sedang dibicarakan datang dengan sebuah nampan besar berisi bumbu dan gorengan yang masih hangat.

““Ayah,ini bumbu lotisnya,ada pisang dan tempe goreng juga“” kata wanita muda berbalut jilbab itu sembari menyerahkan nampan pada suaminya.

“”Maaf ya seadanya, ini makanan desa, bumbu lotisnya dimakan sama buah,itu gorengannya juga masih hangat,silahkan dicicipi”.” Kata wanita itu sopan pada kedua tamu suaminya. “”Mas Alif,dek Nurul ayo masuk dulu,makan siang sama Bunda””. Kedua bocah itu beranjak dari atas tikar mengikuti Bundanya masuk ke dalam rumah

““Istrimu cantik Rif,hehehe””. Kata Heri sambil tersenyum menggoda Arif.

“”husshhh,awas kau Her” Arif melempar Heri dengan gulungan koran.

“”hahaha,aku bercanda, tapi serius istrimu memang cantik walau tak secantik istrinya Indra,hahaha, pantas kamu betah di rumah”” Heri dan Indra tertawa.

““ahh,kamu ini Her,mana tahu kamu wanita cantik atau ndak,wong kamu aja belum beristri”” balas Arif menggoda Heri.

Obrolan seru ketiga sahabat akrab sejak SMA itu terus berlanjut. Matahari sudah hendak terbenam. Kedua tamu akhirnya pamit pulang, kali ini ada yang mengusik hati mereka masing-masing usai pertemuan hangat hari itu.

***^^***

““Yah,tadi lama banget ngobrolnya,memang membahas apa sih?”” tanya Kayla pada suaminya yang tengah asik membaca buku.

““tadi cuma ngobrol biasa,tentang kehidupan kami masng-masing, mereka tak banyak berubah,dari dulu seperti itu”.” Kata lelaki berwajah teduh itu sambil tersenyum kecil. Ia tutup buku di tangannya, lalu beralih memandangi wajah istrinya. Ia tiba-tiba tersadar, ternyata setelah 8 tahun menikah kecantikan istrinya tak pernah berkurang,justru ia terlihat semakin menawan.

““Sayang…””

Wajah Kayla bersemu merah. ““hushh ,Ayah,nanti anak-anak dengar”” katanya malu-malu.

““ahhh,anak-anak kan sudah tidur” Kata Arif sambil meraih kedua tangan istrinya lalu mencimnya pelan. “”Tahu tidak siapa lelaki termiskin di dunia?””

Kayla mengerutkan dahi “umm,siapa memangnya Yah?””

““lelaki termiskin di dunia itu bukanlah mereka yang tak punya harta tapi lelaki yang tidak mau menikah, atau kalaupun mereka menikah, mereka menikahi wanita yang tidak shalihah. Karena sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang shalihah kan?”” kata Arif sambil tersenyum hangat.

Kayla tersenyum, terlihat ada binar di kedua matanya. “”Terimakasih ya Sayang,sudah menjadi sebaik-baik istri untuk Mas,dan sudah menjadikan Mas sebagai lelaki terkaya di dunia”” pelan Arif memeluk tubuh istrinya.

***^^***

Malam. Di sebuah rumah mewah berlantai 2.

Indra menatap langit-langit kamarnya. Ada begitu banyak hal yang bergejolak di hatinya. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya terusik. Ia teringat rumah sederhana Arif, Arif yang bekerja membuat sebuah percetakan buku dan majalah, Arif dengan istri dan anak-anaknya yang begitu pintar. Betapa pemandangan itu berbeda dengan pemandangan di rumahnya. Istrinya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, kini ia harus melunasi biaya belanja yang telah dihabiskan oleh istrinya. Berbeda sekali dengan istri Arif yang begitu sederhana. Istri yang mau merawat dan mendidik anak di rumah, mengurus rumah, menyiapkan makanan dan segala kebutuhannya, suatu hal yang bahkan belum pernah istrinya lakukan.

Lalu ia memandangi kasur di sebelahnya. Kosong. Sudah selarut ini bahkan istrinya tak kunjung pulang.

““hfhhh..”” ia menghela napas berat. “”betapa kebahagiaan itu belum kudapatkan“”

***^^***

Malam. Di sebuah apartemen mewah yang sepi.

Heri duduk memandangi layar televisinya yang begitu lebar, sambil sesekali menguap. Ia pencet-pencet remote mengganti channel. Akhirnya ia menyerah. Bosan. Ia memilih berbaring di sofa yang ada di balkon apartemennya, sambil memandangi langit. Hanya sedikit bintang yang bisa ia lihat, kalah dengan cahaya lampu-lampu di tengah kota.

““hfhhh..”” ia menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

Tiba-tiba ia tersadar, betapa selama ini ia begitu kesepian. Ia teringat nasihat Ibunya yang lebih memilih tinggal di desa. Ibunya pernah berpesan agar ia segera menikah. Bahkan ibunya sempat mencarikan seorang gadis desa terpelajar untuknya, gadis sederhana, berjilbab seperti istri Arif. Tapi ia menolaknya. Heri lebih memilih kuliah di luar negeri dan mengejar jabatan tinggi di kantornya. Kini ia sadar, betapa ia sudah lebih dari dewasa untuk berumah tangga. Jabatan tingginya di kantor tak lantas membuatnya merasa bahagia. Pernah ia bertanya pada Arif mengapa ia tak bekerja di perusahaan bonafide tapi malah membuat percetakan kecil. Arif hanya memberikan jawaban sederhana,

“”yang penting barokah her,bisa memberi manfaat untuk banyak orang, percetakan majalah dan buku ini tak selalu berorientasi pada profit, tapi lebih kepada manfaat yang bisa dihasilkan untuk orang lain,hitung-hitung bekerja sambil berdakwah dan nanti bisa jadi amal jariyah””

Ia terus menatap langit yang semakin gelap. Berharap menemukan sebuah jawaban kegundahan hatinya.

***^^***

Terinspirasi dari tulisan seorang saudara, syukron ya akhi. Afwan tulisan antum saya buat cerpen. Tapi tampaknya kepanjangan ya.^^’

Jum’at,9 September 2011

Leave a Comment