Dialog hati UkhtiShalihah

Kisah si teko dan si gelas…

Hmm, …tergelitik lagi… menulis tentang hal sederhana ini.Yak …tentang belajar kebaikan…. Dimulai dari pertanyaan..”sudah baik kah kita?”

Kalo ayu pasti akan jawab …”belum”. Tapi mungkin ada orang yang akan langsung bilang “sudah, aku sudah baik kok”.Ya… tiap orang punya alasannya masing-masing untuk menjawab itu.Kenapa ayu bilang “belum”, ya memang karena ayu sedang berproses menuju kata “baik” itu….

Ketika kita sudah menilai diri kita baik… maka bisa jadi, kita akan sulit untuk mengambil ilmu dan hikmah dari orang lain di sekitar kita…apalagi kalo orang itu -dalam pandangan orang umum-  “derajat”nya lebih rendah dari kita… misal, penjual koran, petugas cleaning service di kampus, pak tua tukang becak… dll

Ibaratkan …kalo kita mau menuangkan air dari sebuah teko ke dalam sebuah gelas…. Nah..apa yang akan kita lakukan sama si gelas itu teman-teman? Yakk..pintar sekali! Pasti yang akan kita lakukan pertama kali adalah… menempatkan si gelas lebih rendah dari si teko…. Trus …kita buka deh tutupnya…. Baru setelah itu tuangkan air dari teko ke dalam gelas itu… ^____^

Nah,sama kan dengan kita? Ketika kita mau mengambil ilmu dari orang lain…sudah seharusnya kita menempatkan diri kita di posisi “lebih rendah” dari si pemberi ilmu itu…. Maksudnya… di sini… seharusnya tak ada lagi kesombongan di hati kita… tak masalah dari mana ilmu dan hikmah itu berasal,yang penting adalah apa yang bisa kita ambil dan kita jadikan pelajaran….

Nahh..kalo belum-belum kita udah pake baju sombong.Ilmu yang berasal dari orang yang jauh lebih berilmu aja kita tolak…apalagi yang menurut kita kurang berilmu….

Lalu… jangan lupa… di buka tutup gelasnya… kenapa? Biar airnya bisa masuk dong ke dalam gelas…. Sama…, ketika kita mau menerima ilmu sudah seharusnya kita membuka hati dan pikiran kita untuk menerima ilmu itu…. ketika kita sudah memasang penutup antara hati dan ilmu maka sudah pasti kita akan sulit mengambil pelajaran….

Lalu… ketika gelas kita sudah terisi penuh? Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisi gelas2 kosong lainnya. Kita ndak mau jadi orang yang egois dong… kaloilmunya cuma kita pakai sendiri. Maka,yukk kita bagikan air dalam delas kita untuk gelas kosong yang lain. Nahh… dengan begitu… gelas kita bisa diisi ulang lagi…^^

Jadi …Kita tak hanya terisi tapi juga mengisi… ya kan^^

Hmm,… mungkin sepele ya? …Tapi ternyata ada saja orang yang ndak juga paham…. Karena… ada orang yang masih saja tak mau “merendah” dan tak mau membukan “tutup gelasnya”, dan akhirnya… bisa jadi ada begitu banyak ilmu dan hikmah di sekitar mereka… tapi sayangnya mereka tak bisa mengambil pelajaran darinya….

Hmm,…semoga kita ndak begitu ya teman-teman…^^

Tiap berangkat ke kampus ayu sering sekali belajar dari orang-orang yang ayu lihat…. Misal… mas-masdan mba-mba penjual koran… ayu belajar tentang kerja keras dari mereka… betapa mereka harus berpanas-panasan…. Padahal seharusnya… bisa jadi di usia mereka yang masih sangat muda, mereka bisa menuntut ilmu… seperti kita… tapi… mereka tak berkesempatan untuk itu….

Lalu… nikmat yang mana lagi yang akan kita dustakan?

Kita bisa sekolah… bisa kuliah …dan kelak berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari mereka.. bukankah dari situ kita bisa belajar.. bahwa tak seharusnya kita menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Allah berikan ini?

Lalu… di lain waktu… ketika ayu mengunjungi KPTU fakultas kedokteran… baru beberapa hari yang lalu, ketika ayu harus mengurusi suatu keperluan…. Sering kali… ayu bertemu dengan sesosok wanita… di usianya yang mungkin sudah hampir separuh abad… dengan begitu riangnya… beliau mengepel lantai KPTU… yang setelah itu pasti akan kotor kembali oleh sepatu-sepatu para mahasiswa….

Apakah beliau mengeluh? Ohh,…tidaakk…. tak sekalipun kulihat ada keluhan terucap dari bibirnya.Yang ada hanyalah sapaan ramah…senyum lembut…dan wajah yang terus ceria….Ya Allah…. Betapa seringkali kita lupa untuk menyapa mereka, Sekedar berkata “…”ndherek langkung Bu…”( permisi Bu)” atau sekedar tersenyum manis pada sosok petugas cleaning service seperti beliau…

Ya… beliau begitu sabar…. Ayu belajar… tentang arti sebuah kesabaran dan keikhlasan dari sosok Ibu itu, yang entah sampai saat ini ayu tak tahu namanya…. Dan ayu lagi-lagi hanya bisa berdoa.Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasihNya,untuk mereka. Sosok-sosok yang sudah mengajariku banyak hal….

Ya… mari kita belajar kebaikan… mari kita mengambil ilmu…. Dari siapapun itu…^^ Dan jangan lupa… kita doakan sosok-sosok itu,…yang darinya kita bisa mendapatkan banyak pelajaran…/

Ahh, Indah ya… ketika kita menyadari…. Bahwa… kebahagiaan itu bisa kita ciptakan dengan banyak bersyukur….

Jumat,14 Januari 2011

2 Comments

Leave a Comment