Cerpen Karya Ukh Sha UkhtiShalihah

Kau, Aku, dan Sebuah Rasa

Kupandangi sebuah dasi kupu-kupu yang berada di tumpukan baju paling atas lemariku. Setelah hampir setengah jam memindahkan isi lemari ke koper, dasi berwarna hitam itu tiba-tiba muncul dari balik tumpukan kemeja putihku. Dasi itu mengingatkanku padamu tiga tahun yang lalu, yang pada waktu itu dengan tiba-tiba mengusik ketenanganku dari bertapa di ruang perpustakaan kampus.

“Nih Kak, biar kakak inget kalau sebentar lagi harus wisuda, malu ahh masak udah tua begini belum wisuda juga, nanti Vivi wisuda duluan lho”

Katamu waktu itu sembari menyerahkan, lebih tepatnya melemparkan dasi itu tepat di atas tumpukan buku-buku yang hanya kubolak-balik dengan malas sembari sesekali menguap,ngantuk. Kau itu memang tak hanya lucu, tapi juga jahat. Setelah berhasil membuatku merasa malu, karena dengan terang-terangan meneriakkan kalimat itu di tengah ruang perpustakaan yang ramai, kau juga hampir selalu membuatku mati kutu di depan ibuku yang terus-terusan mengomel tiada henti menyuruhku untuk segera wisuda sebelum kau yang tiga tahun lebih muda dariku itu mendahuluiku mendapatkan gelar sarjana.

Ahh, kau itu mungkin memang sengaja tega melakukan semua itu padaku, karena aku tahu itu demi kebaikanku. Kalau kau tak pernah melakukan hal itu mungkin saat ini aku masih jadi mahasiswa abadi yang malas-malasan menyelesaikan kuliah. Bukannya aku tak mau lulus, tapi itu lebih karena aku sudah berpenghasilan sejak semester kedua kuliahku, dan kalau boleh kusebut saat itu aku sudah bermaisyah. Hmm, hanya saja Aisyahku entah dimana keberadaannya. Dan kau, adalah salah satu gadis terjahat karena ketika melihatmu saja itu membuatku semakin penasaran akankah Aisyahku serupa keshalihannya dengan dirimu?
***^^***

Taman kampus masih tampak sepi. Semilir angin menerbangkan ujung jilbabku. Segera aku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon jambu. Kubuka laptop putihku dengan tak sabar, segera kucolokkan modem dan waktu itu juga aku sudah berselancar di dunia maya. Log in ke dalam salah satu akun jejaring sosial, mencari sebuah nama yang sangat familiar kemudian menumpahkan semua kegundahan dan kekhawatiranku melalui tulisan. Lima belas menit kemudian kutekan enter pada keyboard laptopku, dan pesan itu segera terikirim.

Urung menunggu balasan terlalu lama, akhirnya aku mengambil ponselku, mengetik beberapa bait pesan singkat untukmu.
[quote style=”1″]~Kak, Vivi kirim message, tolong segera balas ya, urgent~[/quote]

Sepuluh menit setelah kukirim pesan singkat itu, akhirnya kau membalas messageku. Dan jawabanmu sungguh membuatku lagi-lagi sedih dan bingung harus memutuskan apa.

[quote style=”1″]~Dek, Bang Irfan itu insyaAllah baik, sholih, dan Kakak cukup kenal dengan beliau. Coba kamu istikharah dulu ya, kalau sudah yakin dengan jawabanmu baru nanti bilang ke beliau. Ingat, jangan pernah memutuskan apapun ketika kamu sedang kalut. Tenang, ndak usah buru-buru. Kakak insyaAllah percaya, kalau Bang Irfan itu pasti bisa menjadi seorang imam yang baik. Tapi segala keputusan ada di kamu Dek, Kakak cuma bisa kasih saran kan? Semoga bisa memberikan keputusan yang terbaik ya Dek~[/quote]

Ahh, kau memang jahat sekali Kak. Ini adalah jawaban yang hampir sama untuk ketiga kalinya. Dan kau bahkan tak pernah mengerti atau kau memang sengaja untuk pura-pura tak mengerti apa maksud dari semua pesan yang kukirimkan padamu itu. Sebenarnya aku bukan ingin kau memberiku saran atau apalah tentang lelaki-lelaki yang menurutmu shalih itu. Tapi aku ingin bilang padamu, Kak, apakah selama ini kau tak pernah ingin menjadikanku Aisyahmu?
***^^***

Tanganku bergetar, jantungku kian bergemuruh, tak butuh berapa lama sudah selesai beberapa baris kalimat yang akan kukirimkan padamu. Lagi-lagi aku tak pernah bisa menahan diri ketika untuk yang ketiga kalinya selama 2 tahun ini kau mengirimkan message dengan isi yang hampir sama. Apa kau tak tahu atau kau memang sengaja mengirimkan message semacam ini untuk menyindirku yang sampai usia seperempat abad ini belum juga beristri?

Aku lagi-lagi harus mengecewakan ibuku, yang sejak lama menginginkan seorang anak perempuan shalihah sepertimu. Kau yang sangat polos itu, bahkan dalam tiap messagemu kau selalu berkata,
“Kak, vivi belum bisa jadi wanita shalihah, vivi ndak cantik, ndak bisa masak.. dll” dan kau akan menyebutkan segala ketidakbisaanmu itu.

Andai kau tahu, Ibuku sering berkata padaku, “Kak Lutfi, kalau cari istri nanti carilah yang seperti dek vivi itu ya, Ibu suka gadis shalihah seperti itu, yang bisa ngaji dan paham agama, jadi besok cucu-cucu ibu insyaAllah jadi anak shalih shalihah”

Ya, kau pasti tak tahu bahwa malam tadi sudah kubulatkan tekadku untuk menemuimu juga ayah dan ibumu, aku ingin mengambil kesempatan itu sebelum ada orang lain yang mendahuluiku lagi. Tapi pada kenyatannya isi messagemu sudah menjadi jawaban untukku. Kali ini aku harus berkorban, lagi, demi seorang saudara lain yang jauh lebih berani dan mungkin jauh lebih baik untuk menjadi imam bagimu.
***^^***

“Viviiiii” teriakan seorang gadis yang agaknya cukup familiar membuatku berhenti dan menoleh ke belakang.

“eh, hai Mel, ada apa? Kenapa teriak begitu?” gadis berambut lurus sebahu itu tampak kelelahan, pipinya memerah, tapi ia tersenyum dan langsung memelukku.
Aku hanya diam, tak mengerti dengan tingkah temanku satu itu.

“kok kamu nggak bilang-bilang sih Vi, nih aku dapat undanganmu dari Risma, masa sama teman sekelas nggak dikasih tahu langsung” wajahnya yang cantik khas gadis cina yang bermata sipit itu tampak lucu ketika manyun.

“iyaa, maaf ya Mel, kita kemarin baru sibuk-sibuknya ngurus wisuda kan, teman-teman yang lain juga udah jarang-jarang ke kampus, makanya undangan ini aku titipkan ke Risma” kataku masih menatap gadis bernama Amela itu.

Ya, kini aku sudah lulus, tepat seminggu yang lalu aku sudah punya gelar sarjana. Afifah Khairunnisa S.E. Seiring dengan gelar itu dalam waktu dekat ini aku akan mendapatkan satu gelar lagi. Menjadi seorang istri. Dan kau tahu kak, ketika bertemu denganmu saat itu maka aku harus siap dengan segala perasaanku padamu.

***^^***
Kumasukkan dasi kupu-kupu itu ke dalam kantong depan ranselku. Segala ingatanku tentangmu ternyata masih saja tersimpan baik di memori otakku. Dulu rasanya aku ingin sekali amnesia, karena mungkin itu menjadi salah satu cara paling manjur untuk membuatku lupa pada setiap hal tentangmu. Tapi Allah bekehendak lain, ingatanku sampai saat ini masih baik-baik saja.

Tentu aku juga masih ingat pada saat aku menjalani semester sembilanku, masa ketika aku masih berkutat dengan skripsi di saat teman-teman seangkatanku baru saja lulus. Dan kau saat itu masih menjadi mahasiswa baru, ya baru tiga bulan kuliah dan kau sudah mengirim message pertamamu, tentang rencana khitbah itu. Lalu di semester keduamu dan hari itu menjelang saat-saat wisudaku lagi-lagi kau mengirimkan sebuah message yang sama untuk kedua kalinya. Lalu di saat kau tengah mulai mengerjakan skripsi di semester tujuhmu

itu dan aku tengah sibuk mengumpulkan maisyah, lagi kau mengirimkan message ketigamu.

Dan tak terasa enam bulan sudah berlalu sejak saat terakhir kau mengirim message ketiga untukku. Kini kau sudah bergelar sarjana, dan beberapa hari lagi kau akan segera menyempurnakan separuh agama. Kau akan menikah. Ya, dan aku tahu, ketika bertemu denganmu saat itu aku harus siap dengan segala perasaanku padamu.

***^^***
to be continued,
insyaAllah cerpen ini bisa dibaca di kumcer ukh sha yang ketiga ♥

*Kalau sudah jadi bukunya, jangan lupa pesan ya ukhti ^^*

by: Hayu Iwandanu.

Rabu,27 Juni 2012
Pict source: muslimagnet.tumblr.com

Leave a Comment