Dialog hati UkhtiShalihah

Karena hidup tak mengenal siaran tunda,apalagi siaran ulang…

Beberapa hari yang lalu ayu mendapatkan sebuah taushiyah dari seoang ukhti… yang berkaitan dengan “momentum”. Lalu teringat juga dengan kalimat judul di atas. Entah itu kalimat siapa, yang jelas sangat menohok sekali ketika kita renungi maknanya.

Sebelumnya, apa sih “momentum” itu?

Masih inget pelajaran fisika? Yang masih SMA ato yang kuliah di teknik mungkin bisa jelasin nih.hehe

Nah..tapi yang ayu maksud di sini, momentum adalah “waktu” dimana kita menggunakannya untuk melakukan sesuatu hal yang baru,atau inovasi dalam hidup kita. Atau sederhananya momentum adalah sebuah titik dimana kita ingin berubah menjadi lebih baik,atau melakukan apa saja yang lebih baik. Misal momentum pas hari lahir (sedih ya kalo milad itu kan jatah usia kita berkurang), nah di situ  bisa jadi kita mempersiapkan target-target baru dalam hidup kita ke depannya. Atau misal ketika lulus SMA, ada saja yang sebelum lulus sudah menargetkan apa-apa saja yang akan dilakukan setelah lulus nanti.

Dalam menyikapi sebuah momentum kita bisa dikategorikan menjadi beberapa orang nih, ada orang yang melewatkan momentum, menunggu, menggunakan atau menciptakan sebuah sebuah momentum.

Siapa yang paling rugi diantara itu?

Tentu saja mereka yang melewatkan sebuah momentum, ada sebuah kesempatan yang baik untuk melakukan sebuah kebaikan,tapi malah kita lewatkan, misalnya… ketika kita punya sebuah keluarga yang baik,yang paham agama,sudah semestinya kita mengambil kesempatan itu untuk belajar menjadi muslim yang jauh lebih baik kan? Karena lingkungan kita sangat mendukung, kita bisa berjilbab dengan tenang,di rumah bisa belajar agama dari orangtua. Tapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Ada seorang anak ustadz yang justru kalo kemana2 pake baju yang..hmm begitulah… intinya ia di lingkungan masyarakat tak pakai jilbab. Padahal dia jauh lebih beruntung karena punya orangtua yang paham agama.

Lalu… ada orang yang menunggu momentum.. ketika ditanya..””kapan mau pake jilbab?”” lalu ia jawab, “”besok lah kalo udah lulus kuliah, biar sekarang bisa lebih mempersiapkan hati”” . yahh, bisa jadi ia menunggu waktu yang tepat dan dalam proses persiapan. Hanya saja..kok rasanya ketika kita lihat realita yang ada itu malah justru seperti legitimasi untuk menunda berbuat baik ya? apalagi kalo jilbab ini masalah yang wajib dan tak bisa ditawar-tawar.

Nahhh, kalo ditanya “”kapan nikah?”” ketika ada yang menjawab, “”ini sedang mempersiapkan bekal,mempersiapan maisyah juga ilmunya”” kalo jawabannya begini maka wajar, dan bisa dibilang sudah tepat, karena ia sudah mempersiapakan dan sudah berpikir masak-masak untuk menjemput “momentum pernikahannya” kelak.

Ada juga oang yang menggunakan sebuah momentum. Nahhh yang ini baru bagus. Misalnya mumpung bulan ramadhan, kita beribadah lebih rajin, shadaqah lebih banyak, dan beramal lebih giat lagi. Ini adalah orang-orang yang pintar memanfaatkan momentum. Sudah kah kita demikian?

Tapi…walaupun begitu..seharusnya dalam waktu2 lainnya kita juga dituntut untuk melakukan kebaikan2 yang kualitas dan kuantitasnya sama dengan ketika ramadhan. Masak habis ramadhan malah menurun? (kalo ini mah sedang menyindir diri sendiri..hiks)

Dan orang yang paling keren adalah…orang yang bisa menciptakan momentumnya sendiri. Karena mereka tak mau waktu yang tengah bergulir ini berlalu sia2. Pengamalan utama yang terinspiasi dari suat Al Ashr 1-3:

“Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.””

Apalagi kita seorang muslim. Jangan kalah cepet dong sama orang lain. Ketika kita mau bercermin pada saudara-saudara kita maka pasti tak akan sempat kita bermalas-malas tanpa melakukan hal yang berguna.

Ukhti.. akhi… yuk kita isi masa muda kita dengan hal-hal yang bermanfaat, tak hanya untuk kita tapi juga untuk orang-orang disekitar kita. Karena itu tadi… “hidup tak mengenal siaran tunda..apalagi siaran ulang” kalo stasiun tivi mah bisa memutar ulang tayangannya. Hla kalo kita? Mana bisa kita pergi ke masa lalu kita? Mau nebeng doraemon pake lorong waktu?hehe

Makanyaaa… kita haus lebih bijak dan arif lagi ketika melangkah… jangan sampai ada sebuah penyesalan di kemudian hari.. karena bukankah penyesalan itu selalu hadir di akhir?

Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang membuat kita menyesal di waktu yang akan datang, karena kita tak kan pernah bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tapi bila kesalahan itu telah terjadi, maka mari kita mabil pelajaran darinya, tak perlu kita berlarut dalam kesedihan, karena bukankah kita tak hidup untuk masa lalu?

Ya..hiduplah untuk hari ini agar bisa menjemput masa depan yang telah menanti. Sesekali menengok ke belakang itu perlu, tapi setelah itu mari kita lanjutkan langkah kaki kita.. menapaki hari-hari yang sudah terhampar di depan kita. Kebaikan… dan kebaikan… semoga itulah yang senantiasa menyertai langkah kita…. Dan jangan lupa…yuk kita ciptakan momentum kita sendiri… mau jadi muslim yang baik? Mau jadi ikhwan tangguh? Atau jadi akhwat shalihah?

Ndak usah nunggu nanti2..apalagi besok2… mulai aja sekarang! Dari diri kita sendiri!^____^

Ibaratnya dalam basa jawa “selak ketinggalan sepur” (keburu ketinggalan kereta)!

Orang-orang uda pada naik gerbong tapi kita malah masih terpaku, ato malah ngalamun memandangi indanhnya kereta (wihhh..masak liat kereta aja sampe segitunya ya?hehe). Orang-orang uda pada mulai beraksi memupuk amal kebaikan, kita justru sibuk terpesona pada apa-apa yang ditamplkan dunia. Nahh..jangan sampai kita begitu ya teman….

Sudah punya life mapping?

Bikin yuuuukk! ^^ Ayu baru mau bikin baru nih…soalnya yang dulu sudah agak berantakan.hehe

Semangattt ! Jadi muslim tangguh dan keren? Siapa takut! 😀

Dari Ibnu Mas’ud  radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“”kedua kaki anak Adam tidak akan (dibiarkan) melangkah pada hari kiamat dari hadapan Rabbnya, hingga ia ditanya tentang lima perkara; tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan? Dan, apa yang telah ia kerjakan terhadap apa yang ia ketahui”” (HR. At Timidzi)

Masa muda usiaku kini. Warna hidup tinggal kupilih. Namun aku telah putuskan. Hidup diatas kebenaran.

Masa muda penuh karya untukMu Tuhan. Yang aku persembahkan sbagai insan beriman. Mumpung muda ku tak berhenti menapak cita. Menuju negeri syurga yang nun jauh disana.

Kini jelas tiap langkahku. Illahi jadi tujuanku. Apapun yang aku lakukan. Islam slalu jadi pegangan.

Edcoustic -Masa Muda-

Sabtu, 29 Januari 2011

Leave a Comment