Cerbung UkhtiShalihah

Karena cinta itu… kau.. (Part 5)

Pagi ini demikian sejuk matahari bersinar terang. Memberikan energi baru untuk menjalani aktivitas hari ini. Kulangkahkan kakiku menyusuri taman di area Masjid Salman.

“Fa,janjian ketemunya jam berapa sih? belum datang juga ya?” tanya Isna tak sabaran.

“iihh, sabar sedikit napa sih Na? kita duduk di sana dulu yuk” ajakku pada Isna sambil tanganku menunjuk sebuah bangku di bawah pohon yang rindang.

Isna mengeluarkan Al Qur’an sakunya kemudian ia baca pelan. Hmmm, merdu sekali. Aku menikmati tiap bacaannya. Kalau saja ada ikhwan yang mendengarnya pastilah mereka penasaran siapakah pemilik suara seindah ini. Isna memang agak usil dan unik,tapi Ia juga memiliki banyak kelebihan yang tak ku punya. Aku mengeluarkan Ma’tsurat dari dalam tas kecilku. Kubaca pelan seiring dengan tilawah Isna.

Beberapa saat kemudian, ponselku berderit. Ada sebuah sms.

“hey ukhti cantik?^^.berdua aja.mau ditemenin ndak? hehe.lihat belakang”

Aku tersenyum geli membaca sms itu kemudian aku segera menoleh ke belakang. Terlihat sesosok laki-laki berkaos biru tua, dengan jaket hitam favoritnya. Aku pangling, karena kini laki-laki itu berjenggot lumayan lebat. hmmm, tampan sekali. Tapi aku tetap saja sangat ingat pada pemilik wajah itu, wajah laki-laki yang begitu aku rindukan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku beranjak berdiri menghampiri laki-laki itu,agak berlari. Laki-laki itu tersenyum dan aku memeluknya.

Isna dan beberapa ikhwan yang ada di dalam masjid hanya melongo melihat kejadian itu. tapi kemudian Isna tertawa. tapi wajah ikhwan-ikhwan itu agaknya terlihat iri.

“ehhh, kamu ini datang-datang main peluk aja, malu tahu, ada banyak ikhwan itu di masjid..” katanya sambil mencubit hidungku gemas.

hehehe. habis Syifa kangen sama Abang,”aku masih saja bisa cengar-cengir.

“hey hey, acara peluk-pelukannya diterusin nanti aja ya. Ini tempat umum tahu” suara Isna membuatku sadar.

“Bang, kenalkan ini Isna. teman Syifa yang sudah sering Syifa ceritakan itu” kataku sambil tersenyum-senyum.

Pembicaraan kami berlanjut di taman itu. ya, aku sangat merindukan Bang Arif. Aku dan Isna datang jauh-jauh ke Bandung khusus untuk menghadiri acara wisuda Bang Arif minggu depan. Ibu dan dek Alif tidak ikut karena dek Alif harus masuk sekolah.

***^^***

Di ruang tamu di sebuah kos putri.

Siang itu Bang Arif sengaja mampir ke kosku. Aku dan Isna selama seminggu lebih untuk sementara tinggal di kos putri dekat kampus Bang Arif.

“Bang, nanti sore kita jalan-jalan dulu yuk! kan besok pagi-pagi sekali kita udah berangkat ke Jogja ” ajakku pada Bang Arif.

hmm, oke.InsyaAllah ya.tapi nanti Abang harus mampir masjid Salman dulu, ada janji dengan teman”

“nggak apa-apa Bang, kan nanti sekalian bisa ngenalin Syifa pada teman-teman Abang yang shalih dan pintar-pintar itu.hehehe” jawabku sambil menggoda Bang Arif.

“ehhh,enak aja kamu ini. Abang ndak rela dong adik perempuan Abang satu-satunya ini diobral begitu aja. Kalau memang Syifa mau ta’aruf lagi. Akan Abang carikan ikhwan yang benar-benar pantas untuk Syifa” kata Abangku bernada mengancam tapi penuh rasa sayang.

Kalimat Bang Arif itu mengingatkanku pada peristiwa akhir tahun lalu.

20 Desember 2008.

Sore itu, ada pemandangan sedikit berbeda di rumahku. Ada sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumah. Aku ditemani Ibu dan Isna duduk berjajar di kursi ruang tamu. Di hadapan kami duduk dua orang laki-laki muda, seorang laki-laki mengenakan kemeja berwarna biru cerah dan satunya lagi mengenakan baju koko abu-abu dan kopiah putih.

Aku mengenal dua orang ikhwan itu. Mereka adalah pengurus TPA masjid Nurul Hidayah, yang juga teman dari kak Zuhdan. Mereka datang ke rumahku, setelah sebelumnya aku membaca “proposal” yang minggu lalu di bawa oleh kak Aida, kakak tingkat sekaligus ustadzah di masjid juga  yang saat ini sedang pulang ke kota Malang.

Dimulailah perkenalan itu. Awalnya cukup lancar, visi misi kami tentang sebuah pernikahan sudah sesuai, tapi ada sesuatu yang mengganjal dan membuatku ragu.

“Saya ingin,setelah menikah nanti, anti menjadi seorang ibu rumah tangga, mengurus anak-anak di rumah. Saya tidak ingin istri saya terlalu sibuk di luar, karena menurut saya bagaimanapun istri itu tugasnya di rumah kata ikhwan yang memakai kemeja tersebut dengan nada tegas tanpa ragu.

Entah kenapa, ada rasa terganggu di hatiku mendengar kalimat itu.”afwan sebelumnya akhi, jadi maksudnya, antum tidak mengijinkan istri antum nanti beraktivitas di luar rumah? termasuk melakukan aktivitas di masyarakat sekalipun?” tanyaku dengan nada tak kalah tegas.

Seketika itu mata kami saling beradu. Aku menatapnya tajam, meminta penjelasan atas kalimatnya itu. Ia kemudian menunduk.

afwan, bukan begitu maksud saya. Tentu saja istri saya nanti tetap boleh beraktivitas di luar karena memang sudah tanggung jawab kita untuk melakukan dakwah di masyarakat, justru saya akan mendukung. Tapi tentu saja ada batasannya bukan? saya hanya mensyaratkan istri saya nanti lebih banyak bersama anak-anak” jawab ikhwan tersebut.

Kaku. Entah kenapa aku sedikit terganggu atas pernyataan ikhwan itu. Aku yang terbiasa beraktivitas di luar, dengan segala kesibukan dan amanah, tiba-tiba setelah menikah nanti harus banyak berdiam diri di rumah. Memang tidak ada yang salah dengan pernyatannya, tentu apa yang ia katakan pastilah sama dengan kebanyakan ikhwan di luar sana,yang menginginkan anak-anak mereka dibesarkan dalam asuhan sang ibu. Tapi entah kenapa ada saja yang membuatku belum yakin. Aku butuh seorang suami yang tidak hanya shalih dan berpendidikan, tapi ia harus sabar dan kebapakan. Aku tidak mau bersuamikan seorang ikhwan yang kaku,jangan-jangan nanti di rumah tiap hari yang ada hanya diskusi. Padahal, aku sendiri walaupun agak tomboy begini, tetap saja menyukai hal-hal berbau romantis. Walaupun itu hanya sekedar ucapan “Dinda cantik deh hari ini“.

Dan setelah beberapa kali istikharah pun, hatiku memang belum yakin. Kuputuskan untuk tidak melanjutkan proses ta’aruf itu. Kecewa kah aku?

ohh,tentu tidak. karena aku yakin Allah pasti telah menyiapkan pangeran bersedan putih untukku. hehehe.

***^^***

Taman Masjid Salman.

Abang mau ketemu siapa sih?” tanyaku penasaran sekaligus tidak sabar ingin segera belanja oleh-oleh untuk Ibu dan dek Alif.

“kalau kamu udah ndak sabar,mending berangkat duluan aja Fa” kata abangku kalem.

“iihh,nggak mau lah ya. Nanti kalau Syifa belanja sendiri, nggak ada yang bayarin dong.hehehe” jawabku sambil tersenyum jahil.

“wah, kamu ternyata matre juga ya Fa, kasian deh suamimu nanti. hehehe” Isna balas meledekku.

“Enak aja kau Na, ya enggak dong.aku kan pengen jadi istri yang gak suma shalihah tapi juga amanah plus qona’ah.hehehe”

“Istri qona’ah itu, selalu bersukur dan merasa cukup berapapun nafkah yang diberikan oleh suami,tapi tentu saja dalam jumlah yang wajar. Kalau misal bulan ini baru bisa ngasih lima ratus ribu sebulan, ia akan pergunakan dengan sebaik-baiknya dan berkata ‘makasih Bang,InsyaAllah uang ini cukup’,kalau diberi 2 juta sebulan, ia akan berkata ‘Bang,alhamdulillah,bulan ini uang berlebih jadi ada anggaran untuk tabungan sekolah si kecil’, kalau diberi 5 juta ia akan berkata ‘Bang,Alhamdulillah, bulan ini kita bisa bersedekah untuk pembangunan masjid sebelah rumah,juga bersedekah untuk anak-anak yatim”  kata Bang Arif sambil tersenyum lebar.

“idiihh, Abang ini, kayak udah punya istri aja. Nikah aja belum. Tau dari mana coba? lha terus kalo istrinya nggak qona’ah, bilang apa dong Bang?” aku tersenyum menggoda Abangku.

“yaaa,kalo istrinya ndak qona’ah,pasti berapapun nafkah yang diberikan suami akan terasa kurang. diberi 1 juta sebulan ia bilang ‘Abang ini gimana sih, uang segini gak cukup untuk beli beras dan kebutuhan rumah bulan ini’, ketika diberi 3juta sebulan ia bilang, ‘Bang,aku kan pengen facial juga kayak ibu-ibu arisan yang lain,ditambah dong uang bulanannya’, ketika diberi 5juta sebulan ia berkata, ‘Abang tau nggak?di butik itu ada baju yang bagus-bagus lho, beli di sana yuk,tapi uangnya Abang tambahin lagi ya’. begitu Faa, Abang tau dari cerita teman-teman Abang yang sudah menikah. tapi bukan istri mereka, lagipula istri yang begitu tentu saja masih bisa dihitung” jelas Bang Arif.

“hmm,Astagfirullah,semoga kita nggak begitu ya Fa” kata Isna.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Assalamu’alaikum Bang Arif…” terdengar suara dari kejauhan.

Seorang laki-laki berjalan mendekati kami,dengan kaos hitam dan celana jins, serta topi menutupi kepalanya. Ia berjenggot tipis, menggendong tas ransel berukuran besar dan ia bersandal gunung. Batinku, ”nyentrik sekali penampilan laki-laki ini. Apa dia juga ikhwan teman Abangku

Wa’alaikumsalam,Faiz…” Abang menjabat tangan laki-laki itu erat.

kenalkan, ini adik perempuanku,Syifa, dan ini temannya,Isna

Laki-laki itu lantas menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum padaku dan Isna, hanya sekilas saja ia melihat kami, kemudian ia kembali menghadap Bang Arif.

Faiz ini adalah ketua baru SKI di fakultas menggantikan Abang” penjelasan Bang Arif telah menjawab keraguanku.

dari ngisi asistensi ya Iz? gimana kabar binaan antum?” tanya Abangku.

Iya Bang, Alhamdulillah baik,mereka insyaAllah akan segera mengikuti follow up” jawab ikhwan itu kalem.

Aku dan Isna segera berjalan menuju bangku taman, meninggalkan kedua ikhwan itu bicara, dan ternyata setelah kami pergi, datang lagi sekitar sepuluh orang ikhwan mendekati Bang Arif.

“mereka sedang apa Fa?” tanya Isna heran.

nggak tahu Naa, mungin Bang Arif mau pamitan. Kita tunggu saja di sini” aku mengajak Isna duduk.

***^^***

Pusat perbelanjaan kota Bandung selalu ramai dikunjungi wisatawan yang sedang membeli oleh-oleh. Aku melihat ada penjual peuyeum, aku dan isna menghampiri penjual itu.

“A’,sebungkus berapa?” tanyaku.

“ohh,ini lima ribu aja deh buat eneng” kata laki-laki muda itu.

“ya sudah, beli dua bungkus ya A’..

“eneng ini asalnya dari mana? geulis pisan euy” laki-laki itu membungkus peuyeum sambil tersenyum.

“iihh,si Aa’ ini nggodain aja” kata Isna sebal.

ehh, maaf atuh neng,mang Udin mah kagak nggodain,mang Udin kan cuma memuji eneng-eneng ini, mang Udin senang liat ada eneng geulis berjilbab rapi tertutup begini, kaya istri mang Udin di rumah” kata penjual itu sopan.

“ohh,Aa’ sudah beristri yak?” tanya Isna ikut-ikutan berlogat sunda. Lucu sekali. Aku tertawa mendengarnya.

“Emang kenapa Mang Udin senang lihat akhwat berjilbab?” tanyaku heran.

“yaa, sejuk aja dilihatnya neng. nggak seperti itu tuh…” Penjual itu menunjuk kerumunan gadis-gadis cantik berpakaian lumayan. ehmm..seksi.

Mang Udin, nggak suka lihat orang berpakaian begitu, memang wajahnya cantik tapi kalau kecantikannya diumbar begitu jadi nggak sejuk lagi dipandang Neng, kasian lah suami mereka nanti, istrinya jadi bahan tontonan laki-laki lain, kalo Mang Udin mah gak rela atuh. pengennya kecantikan istri Mang Udin ya buat suaminya seorang ” kata penjual yang bernama Mang Udin sambil tersenyum malu.

Aku dan Isna saling berpandangan dan ikut tertawa. Ada-ada saja penjual peuyeum ini. Walaupun  orang biasa tapi ia begitu bijak dalam menilai sesuatu.

“Istri mang Udin juga berjilbab seperti eneng-eneng ini, suka ikut pengajian,juga ngajarin ngaji anak-anak di mushola.”

ohhh,kalau boleh tahu,sekarang anak Mang Udin berapa?” tanya Isna.

Alhamdulillah, baru empat Neng, dan semuanya sudah bisa ngaji,si sulung sudah hafal beberapa juz Al Quran,yang paling kecil berumur 3tahun” kata Mang Udin dengan nada bangga. “kalau Allah berkenan, Mang Udin pengen bikin kesebelasan nanti

“hahh? MasyaAllah….” aku dan Isna hanya bisa melongo lalu tersenyum malu.

“Syifa,udah belanjanya? pulang yuk, udah sore ini” suara Bang Arif menghentikan obrolan seru kami.

“makasih ya Mang, kami pamit dulu. nitip salam buat Istri Mang Udin dan anak-anak ya. Assalamu’alaikum

Dan kami pun pulang. Di perjalanan pulang, kami masih saja membicarakan penjual peuyeum yang sangat bijak itu. Bang Arif tertawa mendengar cerita kami.

nah begitu Fa, seorang penjual peuyeum saja bisa sedemikian bijak, nanti kalian kalau punya suami, carilah yang begitu juga” kata Bang Arif sambil tersenyum.

***^^***

Ueno Park, Tokyo

28 Maret 2010

Indah sekali pemandangan di taman ini,bunga sakura berwarna cerah. Putih,merah jambu,merah muda, berjatuhan di jalan seperti salju. Melukis taman ini menjadi berwarna merah muda. Beruntung sekali, tahun  ini aku bisa ikut menikmati festival hanami di kota Tokyo. Wisatawan asing sibuk mengambil foto, anak-anak kecil berlarian di taman.

Kembali lagi,seperti dua tahun yang lalu. Aku duduk di bangku yang sama. Setelah minggu lalu wisuda telah dilaksanakan. dan kini gelar Master of Engineering ada di belakang namaku.

Zuhdan Abdullah, ST., M.Eng,

Tapi,rasanya masih ada yang kurang. Dengan gelar masterku, dengan pekerjaan yang cukup bagus di sini. Hmm,aku butuh pendamping. Aku butuh kekasih yang akan melengkapi hidupku. Ya.menikah, sudah saatnya aku meminang seorang akhwat.

Aku terkenang kata-kata Ustadz Rasyid 2 tahun yang lalu.

“jodoh itu sudah Allah tetapkan,jadi antum tidak usah khawatir, Allah pasti sudah menyiapkan pendamping terbaik untuk antum. kalau memang akhwat itu adalah jodoh antum,pasti Allah akan memberikannya dengan cara yang ahsan.jangan pernah mendikte Allah. biarlah semua berjalan sesuai rencanaNya.tugas antum saat ini adalah terus memperbaiki kualitas dan memantaskan diri antum.”

Dan kata-kata itulah yang membuatku mamiliki keberanian untuk segera datang menemuinya. Walaupun aku tak tahu, apakah kini akhwat itu telah ada yang meminang atau malah sudah bersuami dan menggendong jundi kecil mereka?

Tapi,bukankah aku tidak boleh berputus asa? kesempatan itu selalu ada dan tugas seorang manusia adalah berusaha, dan Allah yang akan menentukan hasilnya. Jadi kuputuskan, ini adalah ikhtiar terakhirku. Setelah beristikharah sebelumnya, aku jadi semakin yakin untuk segera pulang menemuinya juga Abang dan Ibunya, setelah aku tiba di tanah air.

Kupandangi bunga sakura yang dengan indahnya masih menempel pada dahan pohonnnya.

“hmm,sebentar lagi aku akan memetikmu. Tunggu aku wahai Bidadari karena aku akan segera menjemputmu”

***^^***

29 Maret 2010

Kamarku begitu berantakan, dipenuhi buku, makalah, dan jurnal di sana-sini. Deadline pengumpulan proposal skripsi kian dekat. Belum juga jam 6 pagi, tapi aku harus segera bergegas berangkat ke kampus, karena harus menemui dosen pembimbing. Padahal jadwal untuk konsultasi masih jam 8 pagi. Tapi aku ingin menyiapkan diri agar tidak mengecewakan lagi.

Ini adalah proposal revisi kedua yang kukumpulkan. Setelah mengalami kegagalan yang cukup membuatku hampir putus asa. Harusnya kesibukan menjadi aktivis dakwah tidak boleh menjadi alasan atas terbengkalainya skripsiku. yah, dan kuakui aku memang belum cukup tawazun dalam banyak hal.

Ya.kini aku sudah semester 7, telah sibuk menyiapkan skripsi. Bang Arif sekarang sudah bekerja sebagai pengajar di sebuah universitas swasta, dan mulai mengembangkan usaha otomotifnya bersama teman-temannya.  Selain mengajar, Abang juga meneruskan kuliah, Abang mendapatkan beasiswa lagi untuk program magisternya. Dek Alif sudah kelas 1 MTS sekarang dan menjadi juara kelas. Ibu,masih membuat kue, tapi Alhamdulillah sudah tidak berkeliling kampung lagi, Abang telah membuatkan Ibu toko kue di samping rumah yang selalu ramai pembeli.

Baru saja selesai memakai jilbab. tiba-tiba ponselku berdering.

“siapa pagi-pagi begini telpon?” kataku agak sedikit sebal.

Assalamua’alaikum… Syifa?” suara laki-laki yang sangat kukenal.

Wa’alaikumsalam,Bang Arif!” aku hampir berteriak.

nggak usah teriak begitu lah Fa, Abang masih bisa denger kok” kata Abang bernada ngambek.

hehehe…ya maap Bang,habis Abang jarang telpon sih,sombong ni, mentang-mentang di situ udah sibuk jadi dosen plus juragan bengkel” kataku menggoda.

“ehhh, kamu ini.nggak suka apa Abangnya jadi orang sukses? gimana skripsimu anak bandel?”

“ini lagi mau ketemu dosen Bang, doakan ya semoga proposalnya nggak perlu direvisi lagi…eh, bentar-bentar,tumben Abang telpon pagi-pagi? ada apa Bang?ada suatu hal penting kah?” tanyaku agak heran.

Iya Faa,ada hal penting yang harus Abang bicarakan” kata Bang Arif bernada serius.

ada apa Bang?” tanyaku penasaran.

Syifa, Abang dititipi sebuah proposal..

“Haaa?proposal? maksud Abang proposal ta’aruf? dari siapa? Apa Syifa kenal?” tanyaku semakin penasaran.

Iya, Syifa kenal…ikhwan itu adalah adik angkatan Abang di kampus. Beliau adalah. Faiz Nur Rahman

Tiba-tiba aku teringat kembali peristiwa tahun lalu di taman masjid Salman. Ternyata ikhwan itu…

to be continued ^^

Part 4 and the Last episode

***^^***

Kamis, 6 Oktober 2011

Akhirnya tinggal satu episode terakhir lagi yang harus diupload ^^ semangat !!

Leave a Comment