Cerbung UkhtiShalihah

Karena cinta itu…Kau…(Part 1)

Pagi itu tampak cerah, udara juga tak begitu dingin.tampak sinar mentari begitu hangat mengenai wajahku. Hmm, Alhamdulillah, sejuknya pagi ini.

Kulangkahkan kaki perlahan sambil menuntun sepedaku menuju pelataran masjid kampus. Aku berhenti di  bawah sebuah pohon yang ku tak tahu namanya, tapi aku sangat suka dengan pohon itu, karena dari situ dapat kulihat indahnya matahari terbit di pagi hari.

Ya, tempatku berada memang jauh lebih tinggi beberapa meter dari area lain. Walaupun masjid ini berada di tengah kota yang cukup padat, tapi kesejukan selalu hadir menyambut tiap orang yang datang. Segera kuparkir sepedaku di bawah pohon tadi. Kubenahi letak jilbabku yang sedari tadi kurang rapi. Kususuri jalan beralas batu-batu kecil yang tersusun dengan uniknya menuju teras masjid.

Semilir angin menerbangkan ujung jilbabku.tiba-tiba aku melihat sosok yang begitu kukenal.ia menatapku sepersekian detik kemudian memalingkan wajahnya.

“ya Rabb…” aku berulangkali beristighfar di dalam hati. Menyesali kenapa harus melewati jalan ini, jalan yang begitu jelas terlihat dari sisi barat masjid,sehingga dengan mudah terlihat dari shaf ikhwan.

Kupercepat langkah kakiku, sebelum tangisku pecah.

“Assalamu’alaikum Fa“, sapa seorang akhwat sembari menjabat tanganku hangat. dia adalah kak aida, kakak angkatanku di kampus yang telah begitu banyak mengajariku tentang indahnya agamaku.Islam.

“Wa’alaikumsalam Kak, udah lama ya nunggunya? afwan, tadi Syifa mampir ke warung dulu nganter roti titipan ibu”

Sekuat tenaga kutahan tangisku, lalu aku duduk di teras masjid berwarna hijau itu, menyelonjorkan kaki menghadap matahari, berharap semoga kak aida tidak memperhatikan wajahku yang gelisah.

“lho,Syifa sakit?kok pucat begitu wajahnya?” hati-hati kak aida bertanya padaku.

eh, Syifa enggak sakit kok Kak,cuma agak capek kan kemarin habis ikut outbond acara LK SKI itu Kak” kukeluarkan sebuah buku bersampul biru muda dari dalam tasku.

“ini Kak hasil syuro kemarin, kata mas’ulnya akan diadakan syuro lagi senin depan, kemungkinan itu adalah syuro terakhir sebelum seminar diadakan, dan InsyaAllah persiapan semua sudah matang, tinggal menghubungi pembicara-pembicaranya lagi”

Kulupakan sejenak tentang pertemuan tak terduga barusan,kucoba untuk fokus membahas acara seminar kemuslimahan yang akan diadakan 2 pekan lagi itu. Dan pembicaraan itu berlangsung hingga pukul 9.45 tepat sebelum kuliah di mulai. Selesai berdiskusi dengan Kak Aida, aku bergegas kembali ke fakultasku untuk mengikuti kuliah hari senin pertamaku. Statistika.

Alhamdulillah, sudah kusiapkan sebelumnya mata kuliah ini, jadi soal-soal quiz dari dosen bisa kukerjakan.Ya,di sinilah fakultasku. MIPA, dengan prodi Matematika. Padahal dulu matematika adalah salah satu pelajaran yang sangat tidak kusukai. Pusing minta ampun, tapi akhirnya aku selamat sampai di semester3 ini dengan IP yang bisa dikatakan ehmm lumayan lah. Bagi mahasiswa prodi matematika bisa mendapat IP lebih dari 3 adalah suatu hal yang patut disyukuri.

Usai kuliah aku segera menuju masjid fakultas yang berada di sebelah tenggara gedung dekat dengan basecamp himaprodi. Biasanya aku akan mampir dulu menyapa teman-teman di ruang BEM. Tapi siang ini rasanya aku lebih ingin duduk menunggu adzan dhuhur di masjid.

Di lantai 2 masjid aku duduk sambil bersandar di tembok dan kuambil Al Quran dari dalam tas,kubaca pelan. Seiring dengan bacaanku, air mataku pun tumpah.

“Rabbi,perih nian rasanya…” masih kuingat sekali wajahnya. Ia yang telah menumbuhkan berbagai rasa di hatiku. Ia yang begitu cepat datang, tapi begitu cepat pula pergi.

Duhai Pemilik hati dan jiwaku,bila rasa ini begitu membuatku sakit, tolonglah bawa ia pergi saja. Jauhkan aku dari memikirkannya,selalu aku berdoa begitu.

Teringat 2 bulan lamanya ia menghilang. Tanpa kabar, tanpa pesan. Dan ia telah membuatku menanti, membuatku berharap terlalu jauh. Membuatku begitu berangan-angan betapa indahnya melalui hari-hari bersamanya dan kini aku begitu hancur ketika melihatnya lagi.

Tiba-tiba ponselku berderit,ada sebuah pesan masuk.

Kuusap airmataku pelan. Kuambil ponselku dan kulihat di layar tertulis sebuah nama di sana. Kak Zuhdan. Dan air mataku kembali menetes,kian deras..

***^^***

to be continued ^^ Part 2

Leave a Comment