Cerbung UkhtiShalihah

Karena cinta itu… kau…(Part 2)

Melodi hujan di bulan Juli,

Di tengah rintikan hujan, sore yang telah beranjak petang, sayup-sayup terdengar suara adzan. Kulangkahkan kakiku dengan sedikit terburu-buru, berharap buku-buku di dalam tas dan map berisi tugas ospek yang kubawa tidak basah terkena hujan, kulihat sebuah masjid di seberang jalan, dengan agak berlari aku bergegas menuju masjid itu.

“hfhh…” segera kurapikan semua barang bawaanku, kumasukkan dalam plastik agar tidak semakin basah. Segera kuambil wudhu, kemudian ikut shalat berjamaah di shaf belakang bersama akhowat lain.

Masjid Nurul Hidayah. letaknya hanya beberapa ratus meter dari kompleks kampusku. masjid yang berada di tengah kampung, tiap sore selalu ramai dengan celoteh anak-anak mengaji..begitu juga dengan sore ini, usai shalat maghrib anak-anak seusia dek Alif -adikku yang baru duduk di kelas 4SD- itu telah duduk rapi berjajar di belakang sebuah bangku panjang sambil memegang buku iqro di tangan.

Aku beranjak keluar menuju teras masjid, kulihat hujan masih saja terus mengguyur bumi.”hmm,bau tanah basah,aku suka..”

Aku begitu menikmati suara anak-anak mengaji “kak udha,kak udha…icha mau ngaji ini…didengelin yaaa…”

Aku tersenyum mendengar suara bocah kecil itu dan orang yang dipanggil Kak Udha tersebut dengan sabar mengajari bocah kecil itu membaca iqro.

iya, sini icha ngajinya sama Kak Udha” suara seorang ikhwan itu cukup menarik perhatianku,suara yang dipenuhi kesabaran, kebapakan.

“duh“, berulangkali aku beristighfar.

Telah lama menanti, tapi hujan tak juga reda. Anak-anak telah selesai mengaji, dengan riangnya mereka keluar dari masjid, mengambil payung masing-masing yang berwarna-warni. Sambil mengucap salam mereka meninggalkan masjid “pulang dulu ya kak, Assalamu’alaikuuuummm”

Lalu terdengar jawaban dari belakangku “wa’alaikumsalam, hati-hati ya, pelan-pelan jalannya licin” . Pemilik suara itu perlahan mendekatiku,

” Assalamu’alaikum, maaf adek ini siapa ya? saya perhatikan dari tadi di sini, sedang menunggu seseorang?”

Tiba-tiba aku menjadi gugup,“eh wa’alaikumsalam,enggak nunggu siapa-siapa kok kak, ini cuma nunggu hujan reda, saya nggak bawa payung

Dia kemudian mengambil sebuah payung yang tergeletak di sisi tembok. “ini dek, pakai punya saya saja, perkenalkan saya Zuhdan” ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Dengan gugup kuterima payung itu “makasi banyak kak, saya Syifa” dengan susah payah kucoba tersenyum ditengah kegugupanku. “lalu bagaimana saya bisa mengembalikan payung ini Kak?”

Dia tersenyum, “itu bukan masalah, tiap Selasa dan Kamis sore saya ngajar ngaji di sini, jadi dek Syifa bisa mencari saya di sini, bahkan kalau dek Syifa bisa bantu mengajar ngaji di sini juga lebih baik, kebetulan disini ustadzahnya baru satu”

“InsyaAllah kak, terimakasih, saya pamit dulu, Assalamu’alaikum”

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan basah, dengan payung berwarna biru muda. Masih di masjid itu seorang lelaki bergegas keluar, tanpa payung, hanya kopiah kecil yang menutupi kepalanya, menerobos hujan yang mulai membasahi tubuhnya.

***^^***

Jam dinding di dapur rumah menunjukkan pukul 20.39. Seperti biasa agenda tiap malam adalah membantu Ibu menyiapkan adonan kue yang akan dijual esok pagi.

Bu, syifa  kangen sama Bang Arif, udah 3bulan Abang belum pulang” kataku sembari membantu ibu mengadon roti.

sabar ya nak, Abangmu kan di sana juga sedang berikhtiar bagaimana mengumpulkan uang agar bisa pulang” jawab Ibu yang masih sibuk mencetak adonan roti yang sudah jadi di dalam loyang.

Bang Arif, kakakku satu-satunya , kini tengah kuliah di salah satu perguruan tinggi teknik di Bandung sana. Abang kini sudah skripsi, jadi sudah sangat sibuk sehingga jarang pulang. Aku sangat bangga pada bang Arif, ia yang begitu tekun bekerja di tengah kesibukan kuliahnya, tiap bulan selalu mengirim uang untuk kami di sini. Ya, semenjak Bapak meninggal ketika aku masih duduk di kelas 1 SMP,  Bang Arif menjadi kepala rumah tangga di keluargaku. Aku dan Abang bisa kuliah sampai saat ini juga karena mendapat beasiswa. karena itulah, aku tidak ingin mengecewakan Abang yang sudah begitu kerasnya bekerja untuk kami. Begitu juga dengan ibu, yang sedemikian sabarnya menanggung ujian yang tiada henti ini.

Usai membantu ibu, aku kembali ke kamar. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur, aku teringat sesuatu. Kuambil ponsel yang sepulang kuliah hanya kugeletakkan di meja.hfhh, kuambil nafas dalam-dalam, aku mengumpulkan keberanian untuk mambaca sms dari seseorang yang sampai membuatku menangis siang tadi.

“Assalamu’alaikum, apa kabar ukhti? afwan, sudah lama sekali saya tidak tahu kabar anti. Saya hanya ingin  mengabari bahwa minggu depan Saya akan berangkat ke Jepang, Alhamdulillah Saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program magister di sana. Mohon doanya, titip salam untuk ibu dan dek Alif . Wassalam”.

Entahlah tiba-tiba rasaku menjadi begitu beku. Kecewa, marah, sedih tapi juga ada kelegaan. Ya, mungkin inilah jawaban dari doaku selama ini. Rabb, jika memang bukan ia jodohku, maka tolong jangan membuatku begitu dekat dan berharap padanya, jauhkanlah ia dariku.

Hampir satu setengah tahun. Sejak perkenalan itu, sejak aku mengenal anak-anak di masjid itu, mengajari mereka mengaji. Semua terasa begitu abu-abu kini. Teringat peristiwa siang itu, tepat 2bulan yang lalu di selasar masjid kampus…

***^^***

to be continued ^^

Part 1 and Part 3

Leave a Comment