Cerpen UkhtiShalihah

Ilalang

Kutatap wajahnya lekat, ia memang tampan bahkan menurutku terlalu tampan untuk seorang lelaki desa yang tinggal di pelosok daerah yang mayoritas penduduknya berkulit cokelat, kulitnya justru kuning langsat seperti warna kulit seorang gadis Jawa. Satu-satunya yang membuatnya terlihat berbeda dari lelaki lain adalah ia tak bisa berjalan tanpa bantuan, sepasang kayu tua berwarna coklat yang tampak kusam itu kini telah begitu setia menemaninya hingga usianya yang sudah 17 tahun ini.

“ngalamun lagi?” kataku sembari duduk di sebelahnya, ikut memandangi bunga dandelion yang tumbuh di halaman sekolah.

Ia menoleh padaku, dan hampir seperti biasanya ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Kalaulah aku adalah gadis yang seusia dengannya aku pastilah akan jatuh cinta berkali-kali tiap melihat senyumnya.  “bunganya bagus kan Bu?” katanya sambil memandang ke arah bunga-bunga yang tengah bermekaran dan dikelilingi kupu-kupu itu.

“iya bagus, pasti kau susah sekali ya merawatnya?” sekali lagi kulirik wajahnya yang  terlihat khusyuk memandangi bunga-bunga yang sudah lama ia tanam.

“asal tak telat menyirami dan rutin diberi pupuk pasti akan bisa tumbuh seperti itu Bu” katanya lagi, lalu menoleh padaku. “Ibu,kenapa masih di sini?”

“iya, masih ada tugas yang belum saya koreksi, kamu sendiri kenapa belum pulang?”

Ia tersenyum lagi sambil beralih memandang gawang sepak bola yang terbuat dari bambu di halaman sekolah. “tak apa Bu, saya hanya masih ingin di sini”

“baiklah kalau begitu saya akan kembali ke ruang guru” kataku sambil membenahi tumpukan kertas HVS di tanganku, “umm,bisakah saya memintamu melakukan satu hal?” kali ini aku menatap wajahnya lagi.

“apa Bu?” alisnya terangkat sedikit, mungkin ia heran mendengar kalimatku barusan.

“tolong ketika di luar kelas jangan panggil saya Bu, panggil saja Kakak atau Kak Ana, oke? karena saya merasa lebih tua sepuluh tahun ketika kau memanggil begitu”

Ia tampak berpikir lama, tapi akhirnya ia menganggukkan kepala.

***^^***

Madrasah Aliyah An Nuur, terletak di pelosok kota Ruteng , dan di kota inilah sudah sebulan kuhabiskan waktu untuk mengajar. Tentu bukan sebagai pegawai negeri tapi ini karena aku mendaftar sebuah program di kampus untuk mengajar di pelosok negeri, dan di kota yang dingin ini aku mendapatkan misi pertamaku.

Awalnya aku merasa enggan untuk melangkahkan kakiku ke tanah yang belum pernah kupijak ini, tapi bertemu dengan Faisal, anak lelaki yang pintar itu membuatku berubah pikiran. Pertama kali datang ke madrasah tempatnya bersekolah itu yang terbersit pertama di otakku adalah, betapa luar biasanya mereka yang bisa bertahan di tempat yang sangat sederhana itu.

Sebuah gedung tua menyambutku, catnya sudah mulai luntur, gentingnya beberapa tampak bocor di sana-sini. Tapi semua itu ternyata tak mengurangi semangat siswanya untuk belajar, tak terkecuali Faisal.

“kalian tahu, mengapa kalian harus menggantungkan mimpi setinggi bintang?” kataku di depan kelas ketika pertama kali mengajar.

Hening, beberapa anak tampak saling menoleh. Beberapa saat kemudian seorang anak gadis mengangkat tangan “agar kita bisa melihat mimpi kita bersinar Bu, lalu kita akan terus bersemangat menggapainya”

“iya,betul itu, apapun mimpi kita maka gantungkanlah setinggi bintang di langit, tak perlu takut atas segala kekurangan kita karena bila kita sungguh-sungguh dan terus berdoa Allah pasti akan memberikan kita yang terbaik” kataku pada mereka sambil tersenyum. Kuperhatikan wajah mereka satu per satu, ternyata tak semuanya memperhatikanku, ada satu anak lelaki yang tengah sibuk memandang keluar ke arah jendela di sampingnya sambil tangan kirinya memegang dagu.

“kenapa tadi malah melamun? Faisal kan namamu?” kataku di saat istirahat siang padanya.

“hmm,terkadang terlalu lama memandang langit itu melelahkan Bu”

Semilir angin menerbangkan ujung jilbabku, ia masih saja memandang ke arah halaman sekolah tanpa menoleh ke arahku.

“eh,kenapa harus memandang langit?” aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan.

“kan tadi ibu bilang sendiri, menggantungkan mimpi setinggi bintang itu artinya kita harus sering-sering memandang langit, padahal…” ia menggantung kalimatnya, lalu beranjak mengambil kedua tongkat kayu yang tergeletak di bangku panjang di sampingnya.

“padahal apa?” buru-buru aku berkata padanya sebelum ia berdiri dan pergi.

“umm…” ia menoleh dan memandang wajahku sekilas lalu memandang halaman lagi. “ padahal, terkadang menjadi ilalang kecil yang melindungi kaki-kaki lain agar tak sakit terkena kerikil itu juga indah kan?” ia tersenyum kecil lalu beranjak pergi meninggalkanku sendirian di teras depan kelas. Itulah obrolan pertamaku dengannya.

“anak yang lucu” walau bingung dengan sikapnya tapi akhirnya aku tersenyum juga mendengar kalimatnya.

***^^***

Anaaaaa” seorang gadis berlari-lari menuju taman kampus tempatku duduk sambil membaca ulang berlembar-lembar kertas di tanganku. Karin namanya, anak Jakarta yang yang terkenal cantik di kampus. Rambutnya yang selalu dikucir kuda bergerak-gerak mengikuti langkah kakinya yang cepat.

“ada apa Rin?” kataku heran.

“Ann,pengumumannya sudah keluar, kamu sudah lihat belum? Gimana hasilnya?” ia tampak begitu antusias dan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“pengumuman beasiswa di Jerman maksudmu Rin? Benarkah sudah keluar? Kamu… kamu diterima Rin?”

Karin mengangguk lalu menghambur memelukku,” akhirnya Ann,aku lolos juga,kamu gimana? Sudah lihat?”

Aku menggeleng pelan, “belum, ini sejak pagi aku masih mengurus surat buat apply, mumpung kantor kemahasiswaan S2 belum tutup” kataku sembari memperlihatkan kertas-kertasku.

“lhoo,liat aja dulu pengumumannya Ann,siapa tahu kamu diterima jadi tak perlu mengurus ini” katanya masih antusias.

Sepeninggal Karin aku segera membuka laptop dan membuka pengumuman beasiswa yang baru saja dikatakan oleh Karin. Hatiku berdegup lebih cepat, dan hanya dengan sekali klik aku sudah bisa melihat hasilnya. Sedikit ragu akhirnya aku segera menekan satu tombol enter setelah kumasukkan username dan passwordku. Kucari-cari namaku dari halaman satu sampai lima, tapi ternyata setelah kuulangi tiga kali hasilnya tetap sama, nihil. “subhanallah, jadi aku ndak diterima ya Allah? Kenapa? Kenapa bisa ndak diterima? Padahal seorang Karin aja bisa?”

Mataku mulai mengembun, semua ingatan seakan meloncat-loncat di pikiranku. Aku jadi teringat jerih payahku hanya untuk mendaftar beasiswa itu, ingat aku yang seharian harus kehujanan bolak-balik karena satu berkas yang tertinggal, ingat wajah Ayah dan Ibu yang sudah mendoakanku agar bisa lolos, lalu aku juga teringat foto teman-teman seangkatanku yang sudah lebih dulu mendapatkan beasiswa untuk kuliah keluar negeri, foto-foto mereka di Jepang, Swiss, Jerman, Belanda dan negara lainnya. Siang itu rasanya semua mimpi yang sudah kurajut susah payah tiba-tiba hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, meruntuhkan semangatku yang sudah kubangun sejak lama.

***^^***

Siang yang cukup cerah walau di sini hampir selalu tak pernah ada sinar matahari yang menyengat. Suhu rata-rata di desa ini mungkin hanya sekitar 8-24°C. Kabut lebih sering mampir walau di siang hari, ketika sore datang kabut akan semakin pekat dan tentu akan membuat udara semakin dingin.

Ia masih duduk di teras, seperti biasa, memandangi bunga dan halaman sekolah. Kalau belum tepat pukul dua seperempat ia pasti belum beranjak pulang. Penasaran, aku iseng bertanya dari teman-teman sekelasnya yang masih duduk di dalam kelas. “Dina, Tami kenapa pada belum pulang?” mereka yang kupanggil menoleh ke arahku.

“iya Kak, masih ngobrolin tugas, Kak Ana kok juga belum pulang?” Gadis berjilbab putih bernama Dina itu kembali bertanya lalu tersenyum memperlihatkan lesung pipi di wajahnya yang manis.

“umm,ini masih mau mengumpulkan tugas ke kantor guru, oiya bolehkah kakak bertanya sesuatu? Tapi janji ya ini rahasia” kataku sambil tersenyum kecil.

“ada apa Kak? Kok pakai rahasia segala?” mereka berdua ikut tertawa kecil.

“kalian kenal dekat dengan Faisal? Kakak merasa dia anak yang unik, bisa kasih tau kakak bagaimana sebenarnya ia?”

Mereka berdua saling berpandangan, lalu Tami yang duduk di samping Dina mulai bercerita, “umm, Faisal itu setahu saya dari dulu memang begitu Kak, kadang pendiam tapi kadang juga cerewet. Selama ini ia tinggal bersama Neneknya, Faisal sejak kecil memang, umm… sudah lumpuh kedua kakinya…” Tami beralih memandang Dina.

Dina memandangku dan mulai bercerita. “iya Kak, setahu saya juga ibunya meninggal sejak ia masih kecil, dan ayahnya pergi entah kemana, jadilah Faisal hanya tinggal bertiga dengan kakek dan neneknya, kebetulan Faisal itu tetangga saya,sejak kecil dia memang pandai dan selalu juara kelas. Dia sejak kecil juga selalu membantu Neneknya berjualan, bahkan tiap sore ia masih sempat mengajar ngaji anak-anak di masjid desa”

Lumpuh sejak kecil, tak punya ibu, ditinggalkan ayahnya tapi ia pandai dan sangat berbakti pada kedua kakek dan neneknya, ya Allah, bagaimana bisa ia hidup sedemikian berat” batinku dalam hati sembari memandangi bunga dandelion yang masih mekar di halaman. Sepuluh menit yang lalu kulihat Faisal sudah berjalan keluar pintu gerbang sekolah, pintu gerbang kayu yang sudah lapuk tepatnya.

***^^***

“maaf ya Bu Guru, rumahnya agak berantakan, ini juga seadanya” seorang nenek berdaster biru menyambutku. Segelas teh hangat dan sepiring ubi rebus ia hidangkan di depanku.

“Kak Ana tumben ke rumah, ada apa?” Faisal memandangiku dengan wajah heran, ia masih mengenakan sarung dan kopiah di kepalanya, tampak ia usai shalat Ashar dan mengajar ngaji di masjid.

“ndak apa-apa, pengen silaturahmi aja” kataku santai, dan tak melihat wajahnya, aku hanya tak ingin ia menangkap raut terkejut dan antusias di wajahku. “ini, siapa tau kamu suka” kuulurkan beberapa buah buku bacaaan padanya, buku-buku pengetahuan dan majalah Islam.

Ia memandangi buku-buku itu dengan wajah heran, tapi ia menerimanya dan membaca judulnya satu per satu. “desain web? Hmm, tampaknya kalau yang ini saya memang butuh” katanya sambil tersenyum.

Akhirnya kami banyak bercerita sore itu, tentang cita-citanya, tentang keluarganya, kegiatannya di rumah. Pun aku juga menceritakan tentang mimpiku berkeliling dunia, kuliah sampai S3 dan masih banyak cita-citaku yang lain.

“dulu saya ketika masih SD juga ingin jadi pilot, jadi dokter, guru, atau profesi lain yang menurut anak-anak seusia saya waktu itu adalah sebuah profesi yang wahh” katanya sambil tersenyum kecil sembari menatap halaman rumahnya yang masih dipenuhi anak-anak bermain bola. “tapi sekarang saya sadar bahwa kelak menjadi apapun saya yang harus saya lakukan adalah memberi manfaat untuk orang lain, ini bukan karena saya cacat lalu saya memaafkan diri saya sendiri untuk tak bercita-cita tinggi..” ia menatapku sekilas lalu beralih menatap neneknya yang tengah menyulam di dekat kami, “tapi karena saya tahu kelak saya benar-benar akan menjadi orang yang berguna untuk banyak orang” kali ini ia tersenyum lebar sambil melambai ke arah anak-anak di halaman.

“hmm,kamu hebat ya?” kataku jujur, lalu menyeruput tehku yang tinggal separuh.

“hebat? Apanya yang hebat? Saya toh hanya anak laki-laki biasa yang punya cita –cita sederhana tak seperti Kak Ana yang pengen jadi profesor dan keliling dunia kan?” walau dengan nada bercanda aku merasa ia tengah menyindirku. “heii,saya bercanda Kak,jangan marah” ia buru-buru meminta maaf ketika melihatku yang tiba-tiba terdiam.

“apa salahnya dengan bercita-cita setinggi itu? Lagipula kan nanti tetap Allah yang menentukan?” kataku berusaha tersenyum.

“iya, memang begitu, saya juga tahu, tapi…” ia mulai membuatku penasaran lagi.

“tapi apa?”

Ia tampak berpikir lama,sedikit ragu akhirnya ia bertanya lagi. “kenapa sih kak Ana tak menikah dulu?”

Pertanyaannya spontan membuatku menatap wajahnya. Ia malah tertawa kecil lalu beralih memandang halaman lagi, menghindari mataku. “apa maksudmu? Heii anak kecil bisa-bisanya ngomongin nikah?” aku berlagak sedang memarahinya.

“yang saya tahu, menjadi wanita itu mulia, apalagi ketika mereka menjadi seorang Ibu, ketika mereka bisa melahirkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa, bukankah itu tampak menyenangkan? Tak semua wanita bisa sebahagia itu lho Kak”

“Faisal…” entah kenapa ada perasaan tak enak menyergapku, kulihat wajahnya, sekilas ada kesedihan yang nampak.

“saya kangen Ibu…” ia tersenyum memandang sebuah foto di dalam dompetnya yang sudah lusuh. “ibu saya cantik kan Kak?” ia menunjukkan foto seorang wanita berkerudung lebar tengah menggendong seorang bayi, wajahnya sangat cantik dan mirip dengan Faisal.

Aku mengangguk, tiba-tiba ada perasaan terharu di hatiku. Sore itu aku jadi mengenal sosok Faisal lebih dekat. Anak itu walau cuek tapi ia ternyata begitu memperhatikan orang lain. Dan dari ceritanya aku juga baru tahu bahwa ternyata walau tak punya komputer atau laptop dan fasilitas internet sendiri teryata ia bahkan jauh mahir dariku menggunakan alat-alat itu, salah satunya ia sudah bisa mendesain web dan lain-lain, itu karena tiap ahad dia berangkat ke desa sebelah bersama teman-temannya dan belajar bersama di sebuah yayasan.

“saya juga punya banyak mimpi Kak, tapi saya juga ingat sekarang ada banyak hal yang harus saya lakukan untuk orang-orang di sekitar saya, setidaknya itulah yang membuat saya merasa berguna, jadi saya tak mau terlalu sering menatap langit dan menghitung-hitung berapa banyak bintang di sana, saat ini saya hanya ingin jadi ilalang kecil yang melindungi banyak kaki yang melangkah di antara banyak kerikil”

Mengingat pertemuan sore itu membuatku menyadari banyak hal, dan kurasa datang ke daerah pelosok seperti ini sama sekali tak merugikan tapi justru mengajariku banyak ilmu yang dulu tak pernah kudapat di bangku kuliah. Apalagi setelah dengan bertemu dengan anak lelaki yang unik itu, Faisal.

Kupandangi langit yang sudah mulai gelap, isya sudah lewat setengah jam yang lalu. Kurapatkan jaket yang membalut tubuhku. Halaman sudah mulai sepi,dari atas balkon dapat kulihat beberapa toko di depan rumah sudah mulai tutup.

Ponselku berderit pelan, ada sebuah pesan masuk, dari Ibu. Aku tertegun membaca berbait-bait kalimat yang dikirimkan oleh Ibu, antara terkejut dan senang bahkan aku tak bisa membedakannya.

~Sayang ada dua kabar gembira untukmu, yang pertama ini ada surat dari kampus dan tertera bahwa Ana mendapat beasiswa ke Jepang tiga bulan lagi,  yang kedua, Kak Imran baru saja silaturahmi ke rumah, ia berniat ingin melamarmu. Segala keputusan kami serahkan padamu Sayang, jangan lupa istikharah dulu ya. Salam sayang, Ibu dan Ayah~

“Rabbi…inikah jawabanMu?”

Rabu, 4 April 2012

 [quote style=”1″] Setiap mausia itu tercipta dengan segala kekurangan dan kelebihan, dan sudah menjadi tugas kita untuk memaksimalkan semua potensi yang kita punya, bukan untuk mengungguli orang lain, tapi untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya 🙂

Pun begitu pula dengan mimpi, bolehlah kita punya banyak mimpi dalam hidup kita, tapi segalanya tetap ada dalam genggamanNya, entah mendapat karunia apa, menjadi apa dan bagaimana kita kelak, syukur itu harus selalu ada di hati kita, dengan demikian kita akan mudah untuk merasa bahagia :)[/quote]

~by Ummu Azzam~

6 Comments

Leave a Comment