Cerpen UkhtiShalihah

Bidadari untuk suami..

Dipandanginya layar laptop yang masih menyala dengan tatapan hampa. Siang yang panas membuat udara kian terasa gerah. Dan hal inilah yang membuatnya semakin tak sabar ingin menumpahkan segala gundah yang sedari pagi berputar-putar di kepalanya.

“Lho lhoo, suaminya pulang kok disuguhi wajah cemberut gitu sih dinda? Ada apa?  Sini cerita sama mas?” suara tenang lelaki yang ditunggunya sejak pagi tak juga membuat suasana hatinya membaik.

“Maaaass, Tiara sebeeell” perempuan cantik berwajah jawa itu tampak merajuk.

Tak butuh waktu lama keluarlah rentetan cerita dari bibir mungil Tiara,membuat suaminya geleng-geleng kepala. Sampai tak terhitung lagi berapa kali Tiara merajuk tentang hal yang sama. Kali ini lelaki itu menanggapi Tiara dengan senyuman dan pandangan lebih meneduhkan dari sebelumnya.

“ihh,mas kok senyum-senyum gitu sih? Suka ya istrinya lagi sebel?” Tiara tambah memanyunkan bibirnya.

“bukan gitu dinda, hmm,mas cuma geli aja liat istri mas kalo lagi manyun begitu. Lucu”

Tiara yang mendengar kalimat itu buru-buru mencubit pinggang suaminya sampai terdengar lelaki itu mengaduh pura-pura kesakitan.

“hmm,oke-oke, nanti habis makan kita obrolin ini ya, sekarang mas mau mandi dulu, dinda siapin makan malam gih. Tapi inget ndak pake manyun nanti jadi ndak enak deh masakannya” tawa lelaki itu terdengar setelah melihat Tiara tambah manyun tapi segera bangkit berdiri menuju dapur.

Tiara, perempuan yang berusia 22 tahun itu baru saja mendapatkan gelar sarjana pendidikan bahasa inggris di kota kelahirannya, Jogja. Tiara dinikahi oleh Bagas ketika masih kuliah di semester 5. Bukan tanpa alasan Tiara merajuk berkali-kali sejak lulus kuliah. Tiap hari Bagas bekerja di kantor sejak pagi hingga sore hari, membuat Tiara kesepian di rumah kontrakan yang hanya mereka tempati berdua saja. Apalagi mereka tinggal jauh dari keluarga, bahkan bisa dibilang hanya tinggal berdua saja di kota Banjarmasin dimana suaminya bekerja.

***^^***

 Malam di kota Banjarmasin tampak cerah memperlihatkan gugusan bintang yang tak terhitung jumlahnya. Walau sebagian besar wilayah ini adalah kota besar, rumah-rumahnya kebanyakan didirikan di atas rawa seperti rumah yang saat ini mereka tempati. Rumah dinas dengan halaman yang cukup luas, berdinding batu bata walaupun penyekat di dalam rumah masih menggunakan papan kayu. Tiara bukannya tak suka tinggal di rumah sederhana itu, hanya saja rasa kesepian dan berbagai pertanyaan yang mampir di telinganya semakin membuatnya gelisah ingin memiliki aktivitas di luar seperti teman-teman seangkatannya yang lain.

Ketika masih di Jogja sudah tak terhitung berapa banyak tetangga yang sering melontarkan pertanyaan pada Tiara, tentang kelulusannya, dimana ia bekerja, dan sebagai apa. Ditambah teman-temannya yang satu per satu sudah bekerja juga membuat dirinya kian merasa kesepian. Belum lagi anggapan bahwa kuliah dan menjadi sarjana tak akan berguna bila tak digunakan untuk bekerja, membuat hati Tiara kian merasa terhimpit oleh perasaan kesal.

“jadi Tiara pengen kerja juga di sini?”

Tiara diam, hanya terlihat anggukan kepala tanda ia mengiyakan pertanyaan suaminya. Dalam hati Tiara punya banyak alasan yang ingin disampaikan. Tapi demi melihat wajah suaminya yang sudah tampak serius, lidahnya jadi terasa kelu. Karena tiap kali berargumentasi dengan Bagas, sudah bisa dipastikan Tiara tak pernah menang.

“Maaf ya dinda, mas ndak bisa sering-sering nemenin di rumah. Kan dulu sebelum kita pindah ke sini, mas juga udah cerita kan kalau mas kerja dari pagi sampai sore. Mas maklumi kalau dinda juga pengen kerja, dan insyaAllah mas izinkan tapi dengan satu syarat

Tiara menatap wajah suaminya, antara senang dan takut bercampur menjelma jadi sebuah wajah memelas yang lucu.

“ehh,wajahnya ndak usah begitu juga kali, mas kan cuma mau mengajukan satu syarat” Bagas tertawa sembari mencubit gemas hidung Tiara.

“apa mas?” Tiara masih saja pasang tampang memelas.

“dinda boleh bekerja di luar asal dinda harus bisa membagi waktu antara melakukan kewajiban dinda sebagai istri dan juga kewajiban di tempat kerja nanti. Belum lagi nanti kalau Allah sudah mengamanahkan seorang anak kepada kita, ingat ya dinda harus bisa membagi waktu untuk mengasuh anak-anak. Bisa?”

Lagi-lagi Tiara hanya mengangguk.

“Jadi sudah deal ya? Dinda ndak boleh cemberut lagi besok” suara lembut Bagas membuat Tiara merasa lebih tenang.

“umm,menurut mas, kalau Tiara enggak kerja di luar, terus di rumah Tiara harus ngapain aja?”

“Lho,banyak tahu yang bisa dinda kerjakan. Dinda kan sudah jadi freelance writer di beberapa situs pendidikan, kalau di rumah ya jelas dong menjalankan kewajiban sebagai istri, kalau sudah ada anak ya mengasuh anak di rumah, dan kalau dihitung itu sudah menghabiskan waktu seharian lho”

“Cuma itu aja mas?” wajah Tiara berkerut-kerut, heran dengan kata-kata sang suami.

“Eh kok cuma? dinda yakin bisa melakukan itu semua sendiri? Ya kalau menurut dinda berperan sebagai istri sekaligus menjadi ibu yang mengasuh anak di rumah itu pekerjaan mudah, ya mas sih ndak keberatan kalau dinda pengen menyibukkan diri dengan hal lain” Bagas menjawab dengan santai.

Walau jawaban suaminya terdengar santai, mau tak mau Tiara merasa sedikit tersindir. Berkaca pada kemampuannya yang masih nol besar dalam hal asuh mengasuh anak membuat Tiara merasa sedikit gentar. Tapi mengingat bahwa ia akan punya kesibukan dan tak kan kesepian membuat dirinya bersemangat memenuhi tantangan suaminya itu.

“InsyaAllah Tiara coba yas mas, makasiiiih emaaas” senyum Tiara mengembang diikuti pelukannya pada Bagas yang hampir saja membuat Bagas terjatuh dari kursi. Tak lama kemudian mereka tertawa berdua di teras rumah sembari menatap bulan yang tampak bulat penuh di langit tanpa awan.

 ***^^***

Tiga bulan berlalu, Tiara sudah resmi menjadi guru honorer di sebuat Madrasah Aliyah. Walau hanya seorang guru honorer ternyata kesibukan Tiara hampir sama seperti guru tetap. Tiap hari Tiara berangkat pagi-pagi bersama Bagas bahkan lebih pagi dari siswanya. Sore hari Tiara pulang dijemput Bagas dari kantor atau ketika harus pulang lebih awal Tiara akan pulang bersama salah satu guru yang rumahnya searah . Di sekolah Tiara bertugas mengajar kelas 2, ditambah mengajar les untuk kelas 3 usai jam sekolah. Belum genap dua bulan bekerja Tiara sudah mendapatkan banyak pelajaran berharga selama bekerja sebagai seorang guru.

“Gimana hari ini dinda? Lancar kan?” Bagas tengah duduk menggelosor di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga sambil membuka-buka koran pagi yang belum sempat disentuhnya.

Tiara yang datang dari arah dapur sambil membawa sebuah nampan berisi teh hangat dan pisang goreng buatannya tampak terlihat lelah. “Umm, lumayan mas” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari bibir Tiara padahal ia ingin banyak bercerita tentang kelelahannya selama mengajar apalagi di masa-masa menjelang ujian seperti sekarang ini. Tiara urung bercerita pada sang suami, ia bertekad ingin menunjukkan bahwa ia mampu menghadapi semua kesibukan itu. Karena ketika nanti Tiara mengeluh maka bisa jadi izin bekerja yang sudah ia peroleh akan ditarik kembali oleh suaminya.

“Lho, kok lemes begitu jawabnya? Dinda sakit ya? Coba sini mas lihat” Bagas menarik lengan tiara lalu mendudukannya. Disentuhnya kening tiara dengan telapak tangannya. “innalillahi,kamu demam, kok ndak bilang sama mas dari tadi, kan tadi sebelum pulang bisa mampir ke dokter” suara Bagas terdengar khawatir.

“eh iya mas, maaf. Tadi demamnya juga enggak tinggi kok, makanya Tiara minta langsung pulang. Tiara ndak apa-apa kok mas,tenang aja” kata Tiara sambil berusaha tetap tersenyum.

“ya sudah, besok Sabtu dinda izin dulu ya, mas antar ke dokter, besok kan mas libur. Ya?” Tiara sebenarnya ingin menolak karena di sekolah masih ada tugas yang harus segera ia selesaikan. Tapi demi melihat wajah khawatir suaminya Tiara pun mengangguk.

 ***^^***

 Hari Sabtu yang cukup cerah, walau ba’da Subuh sempat berkabut membuat udara terasa dingin. Tak dapat dipungkiri, Tiara akhirnya merasakan sebuah kerinduan pada aktivitas yang dulu sering ia lakukan bersama sang suami tiap akhir pekan. Dua bulan yang lalu sebelum Tiara bekerja, di hari Sabtu seperti ini Tiara akan diantarkan oleh Bagas ke pasar apung pagi-pagi. Tiara akan dengan bersemangat belanja sayur dan kebutuhan rumah untuk memasak dan bereksperimen mencoba resep baru.

Siang harinya Bagas akan mengajak Tiara berkeliling toko buku, entah hanya melihat-lihat koleksi baru atau sekalian membeli beberapa buah buku. Bagas akan dengan senang hati menghadiahi Tiara buku tiap dua pekan sekali ketika Tiara sudah berhasil menyelesaikan tulisan dan karya terbarunya. Lalu sore hari biasanya ada kajian di masjid raya, dan Bagas juga sering mengajak tiara mendatangi kajian pekanan itu. Ketika hari Ahad tiba, tak jarang Bagas mengajak Tiara bersilaturahim ke rumah salah seorang teman kantor atau mengundang teman-teman kantor untuk datang ke rumah. Dan Tiara akan dengan senang hati pula bereksperimen di dapur untuk menjamu tamu.

Kali ini Bagas mengajak Tiara pergi bukan untuk jalan-jalan tapi mereka harus pergi ke dokter. Rasanya Tiara ingin sekali merajuk pada Bagas agar diizinkan jalan-jalan seperti dulu, tapi Tiara tak mau membuat Bagas khawatir lagi atas kesehatannya. Setibanya di rumah sakit, Tiara langsung mendaftar dan antri seperti pasien lain. Tiara harus menunggu sendiri karena Bagas harus pergi keluar mencari ATM terdekat.

“jadi apa kata dokter tadi? Dinda sakit apa? Dikasih obat ndak?”  Tiara yang mendengar pertanyaan suaminya hanya tersenyum kecil sembari mempererat pegangannya di pinggang Bagas.

lho, kok malah diam begitu? Ada apa? Bikin mas khawatir aja ini”

“Iya nanti Tiara cerita di rumah ya mas” kata Tiara pelan sambil menikmati perjalanan pulang, melihat sungai-sungai lebar berarus tenang di sepanjang jalan.

“jadi gimana tadi?” Bagas mengulang pertanyaan yang sama sesampainya di rumah.Tiara tak bisa menyembunyikan senyumnya yang malu-malu sejak keluar dari ruang pemeriksaan di rumah sakit tadi. Ingin sekali Tiara menghambur memeluk suaminya, tapi ia biarkan Bagas penasaran untuk beberapa saat lamanya.

“hayo tebak?” Tiara ganti bertanya sambil tersenyum jenaka.

“Aduh,mas nyerah deh,jadi dinda sakit apa?”

“Tiara nggak sakit kok mas,cuma kata dokter sebentar lagi Tiara akan jadi ibu dan mas akan jadi ayah” kata Tiara sambil menunduk malu-malu.

Bagas terdiam beberapa detik lamanya sambil memandangi wajah Tiara. “Alhamdulillah” direngkuhnya tubuh Tiara erat.

 ***^^***

 Dua bulan berlalu sejak dijatuhkannya vonis hamil dari dokter untuk Tiara. Beberapa hari terakhir Tiara sering mengalami morning sickness yang sedikit banyak cukup mengganggu aktivitasnya, apalagi di sekolah pekerjaan sedang menumpuk dan menunutut untuk segera diselesaikan. Bagas bukannya tak mengerti kondisi Tiara yang lemah, bahkan Bagas-lah yang seringkali menggantikan Tiara mengerjakan segala pekerjaan rumah, mulai dari mencuci baju, menyapu, dan mengepel. Tapi melihat Tiara yang sebelumnya keukeuh ingin bekerja membuat Bagas tak tega meminta Tiara resign dari pekerjaannya sebagai guru.

“gimana dinda?kecapekan?sini mas pijit” Bagas meletakkan koran yang baru dibacanya dan beralih mendekati Tiara yang tampak duduk di atas karpet.

“iya mas, lumayan, sejak pagi mual-mual terus badan jadi lemes begini, takutnya besok Tiara nggak bisa ngantor padahal ada jadwal ujian” kata Tiara dengan wajah murung. Dua pekan terakhir kantong mata Tiara tampak lebih gelap, akibat lembur membuat soal ujian dan mengerjakan tugas kantor ditambah rasa mual yang seringkali datang membuat kondisi fisik Tiara sedikit drop.

apa ndak bisa digantikan sama guru yang lain? Lebih baik besok izin dulu ya, sorenya mas antar periksa ke dokter”

Tiara tampak ragu dan ingin menolak saran Bagas, tapi ia merasa benar-benar lelah kali ini, hingga ia hanya menganggukkan kepala tanda setuju.

 ***^^***

Langit tampak gelap diselimuti mendung, beberapa menit yang lalu gerimis sudah mulai turun. Tiara tengah memasak pisang goreng di dapur, cemilan kesukaan Bagas. Satu jam lagi waktunya Bagas pulang dan Tiara sebulan terakhir ini selalu menyambut Bagas dengan menu cemilan sore buatannya. Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Capek mas? Gimana tadi presentasinya? Lancar kan?” tanya Tiara sembari membawakan tas kantor Bagas. Bagas yang mendengar Tiara hanya tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Tiara.

“Nanti deh mas ceritanya, ada bau yang menggoda ini, bikin pisang goreng ya? Asiikk” kata Bagas sambil berlari-lari kecil menuju meja makan.

“Ihh, cuci tangan dulu mas, jangan asal comot gitu dong” Tiara pura-pura manyun menggoda Bagas yang sudah mencomot sebuah pisang goreng.

Seperti biasa agenda di sore hari adalah duduk bersama di atas karpet sambil bercengkerama tentang kegiatan masing-masing. Kini tak ada lagi gurat lelah berlebihan di wajah Tiara. Sebulan sudah Tiara kembali menikmati perannya di rumah, sebagai istri dan calon ibu. Usia kandungan Tiara sudah menginjak bulan ke tujuh dan Tiara sudah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai guru.

“Hayo, ngalamun lagi ya? Ada apa? Bosan kah di rumah terus?” Bagas bertanya dengan nada sedikit khawatir.

“Nggak apa-apa mas, cuma lagi kepikiran aja sama sesuatu” jawab Tiara masih memandang rintik hujan lewat jendela.

“Apa? Nyesel kah karena dinda udah berhenti kerja?” Kali ini Bagas memberanikan diri untuk bertanya tentang hal yang selama ini ia takutkan. Tiara kembali menatap wajah Bagas lekat, lalu tersenyum.

“Bukan, justru Tiara bersyukur telah memilih keputusan ini, Tiara justru merasa bersalah karena terlalu sibuk jadi sering mengabaikan mas Bagas, sampai mas sering kambuh maagnya karena Tiara sering telat masak, belum lagi mas juga harus mengambil alih sebagian besar tugas rumah yang harusnya Tiara kerjakan”

Tiara mengingat kembali kejadian dua bulan yang lalu ketika Bagas nyaris pingsan sesampainya di rumah. Maag kambuh dan kelelahan akibat lembur di kantor ditambah harus menggantikan Tiara membersihkan rumah telah membuat kondisi Bagas memburuk. Kejadian itulah yang membuat Tiara sangat merasa bersalah pada suaminya itu.

“Dan Tiara merasa banyak sekali waktu yang terlewat sia-sia, harusnya ketika mengandung seperti ini pun Tiara harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengajari anak kita banyak hal, kasian si dedek mas sudah terlalu lama Tiara abaikan. Makanya sekarang Tiara bersyukur bisa menghabiskan lebih banyak waktu buat mas dan anak kita”

Senyum Bagas mengembang setelah mendengarkan Tiara, ada sebuah perasaan lega karena setidaknya tanpa ia banyak bicara ternyata Tiara sudah bisa mengambil hikmah dari beberapa kejadian yang mereka alami sejak Tiara sibuk bekerja di luar. Kini ia bisa lebih tenang karena tidak terlalu mencemaskan kondisi Tiara lagi karena kini sudah mulai lebih kuat dan sehat.

“Jadi karena besok Sabtu mas libur, gimana kalau kita jalan-jalan ke toko buku lagi? Tiara pengen beli buku mas, kan harus selalu update blog jadi harus ada banyak referensi, ini nih Tiara udah catet judul-judul bukunya..” Tiara mulai membacakan satu per satu judul buku yang ingin dibelinya. Bagas gemas melihat tingkah istrinya itu, tak berapa lama sebuah cubitan mampir di hidung mancung Tiara.

“Everything for you, honey”

Hujan mulai reda, mendung sudah mulai memudar. Dari balik jendela tampak selengkung warna-warni indah di langit. Seperti pelangi itu, di mata Bagas bahkan kini Tiara jauh terlihat lebih cantik setelah berhasil melalui masa-masa sulit yang pernah menjadi ujian bagi mereka.

***^^***

Ahad, 2 November 2012

~ini adalah cerpen lama yang sudah saya buat berbulan-bulan yang lalu, akhirnya baru bisa saya selesaikan sore ini~

4 Comments

  • hihihi…yg awal emang persis mbak…
    alhamdulillah jg skrg uda ada dedek, jadi ga sendirian meskipun blm lahir…hohoho

  • Subhanallah….cerita mengispirasi ana untuk segerah menikah walau saat ini menginjak usia 18 tahun….dan masih duduk di semester 3 آمِيّنْ… آمِيّنْ…. آمِيّنْ.. يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

    • masyaAllaah, semoga Allaah memberikan kemudahan dan Allaah segerakan bagi anti untuk menikah ya dek, di saat yang terbaik tentu saja. saya pun begitu, dulu menikah usia 19 tahun dan masih kuliah di semester 4. Alhamdulillah ada banyak barokah yang saya rasakan sekarang 🙂

Leave a Comment